Unggahan UAS Soal Penolakan GP Ansor Jepara Bertepatan dengan Status Tersangka Gus Yaqut

- Jumat, 09 Januari 2026 | 21:25 WIB
Unggahan UAS Soal Penolakan GP Ansor Jepara Bertepatan dengan Status Tersangka Gus Yaqut

Ustaz Abdul Somad (UAS) baru-baru ini mengunggah dua tangkapan layar berita di Instagramnya. Isinya? Seputar penolakan GP Ansor-Banser terhadap rencana safari dakwahnya di Jepara, Jawa Tengah, beberapa tahun silam.

Waktu unggahan itu muncul, kebetulan sekali, berbarengan dengan ramainya pemberitaan soal Gus Yaqut. Ya, Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menag era Jokowi yang juga pernah jadi panglima tertinggi GP Ansor, kini resmi berstatus tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji.

Nah, soal penolakan itu terjadi pada September 2018. Kala itu, Gerakan Pemuda Ansor Jepara sempat menyatakan sikap. Mereka meminta kepolisian mempertimbangkan matang rencana kedatangan UAS. Bukan tanpa alasan.

Menurut Ketua GP Ansor Jepara saat itu, H. Syamsul Anwar, sikap itu diambil demi menjaga kondusivitas. Bukan untuk mengancam sang ustaz.

“Kami khawatir acara itu bakal ditunggangi,” ujar Syamsul Anwar kala itu.

Kekhawatiran mereka muncul karena melihat ada atribut mirip bendera HTI yang beredar di Jepara jelang acara. Ada juga potensi konsolidasi eks anggota organisasi terlarang itu dalam pengajian tersebut. Makanya, Ansor mendesak polisi memastikan Bendera Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di acara itu.

Tak cuma surat, ribuan anggota Banser turun langsung. Mereka gelar apel kebangsaan dan doa bersama di Lapangan Desa Ngabul, Tahunan. Aksi itu sebagai bentuk komitmen menjaga NKRI dan mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Pada akhirnya, UAS membatalkan niatnya ceramah di Pondok Pesantren Al-Husna Mayong, Jepara.

Pihak UAS menyebut ada intimidasi. Klaim ini dibantah tegas oleh GP Ansor Jepara. Mereka bersikukuh itu hanya bentuk kewaspadaan, bukan ancaman.

GP Ansor sendiri, bagi yang belum tahu, adalah organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Fokus mereka ya di pengembangan pemuda, dakwah moderat, hingga kegiatan sosial dan kebangsaan. Dan di tahun 2018 itu, yang menjabat sebagai panglima tertingginya tak lain adalah Gus Yaqut.

Kini, saat mantan panglimanya berurusan dengan KPK, unggahan UAS soal penolakan masa lalu itu pun mengundang tafsir beragam. Seperti kilas balik yang datang di momen yang cukup ironis.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar