Menteri Keuangan Ungkap Kecurangan Ekspor Sawit, AI Jadi Senjata Baru

- Jumat, 09 Januari 2026 | 21:50 WIB
Menteri Keuangan Ungkap Kecurangan Ekspor Sawit, AI Jadi Senjata Baru

MURIANETWORK.COM - Laporan seorang profesor asal London soal korupsi di sektor tambang dan sawit Indonesia bikin geger. Nilainya fantastis: Rp186,48 triliun. Itu angka yang disebut Michael Buehler, seorang Profesor Ekonomi Politik, dalam tulisannya di Medium akhir Desember lalu.

Menurut Buehler, kerugian negara yang sedemikian besar itu bersumber dari permainan kotor dalam pelaporan pajak ekspor. Para pengusaha batu bara dan sawit disebutnya kerap memanipulasi faktur dan klasifikasi barang. Akibatnya, uang mengalir lancar keluar negeri, sementara kewajiban pajak, bea, dan royalti tertinggal di sini.

“Salah satu cara untuk memperkirakan skala pola tersebut adalah analisis 'pemalsuan faktur perdagangan', yang membandingkan apa yang dilaporkan suatu negara sebagai ekspor dengan apa yang dilaporkan negara-negara mitra sebagai impor,” tulis Buehler.

Dia merujuk pada deskripsi Global Financial Integrity (GFI). Intinya, ini soal pemalsuan nilai, volume, atau jenis barang di dokumen kepabeanan yang dilakukan secara sengaja. Bukan tindakan kecolongan biasa, melainkan skema yang terencana.

Nah, rincian angkanya sendiri cukup mencengangkan. Dari data yang dia analisis, batu bara jadi penyumbang kebocoran terbesar. Sekitar US$19,64 miliar dialihkan keluar via ekspor dengan faktur rendah, plus potensi kerugian pajak US$5,32 miliar. Sementara untuk minyak sawit dan karet, kerugian negara ditaksir mencapai US$4 miliar.

Kalau dijumlah dari tahun 1989 hingga 2017, total potensi kerugian pajak dari enam komoditas itu mencapai US$11,1 miliar. Atau, kalau dirupiahkan, setara dengan Rp186,48 triliun. Jumlah yang sulit dibayangkan.

Buehler, yang bergelar Ph.D dari London School of Economics, mengingatkan satu hal. Kebocoran seperti ini tak selalu melibatkan kapal cepat atau palka rahasia. Justru seringnya, semuanya berawal dari dokumen. Cukup dengan membuat data pengiriman ekspor terlihat lebih murah atau kurang diatur dari yang sebenarnya, uang pun menguap.

Yang menarik, temuan Buehler ini rupanya dapat konfirmasi dari dalam negeri. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri mengakui adanya praktik under invoicing yang cukup masif.

“Kita bisa deteksi bahwa beberapa dari perusahaan sawit melakukan under invoicing ekspor, separuh dari nilai ekspornya,” ungkap Purbaya, seperti dikutip media pada Kamis (8/1/2026).

Dia menyebut kecurangan ini kerap terjadi di industri sawit. Setelah melakukan perbaikan sistem pemantauan di Kemenkeu selama tiga bulan, fakta itu terungkap. Hampir separuh ekspor sawit Indonesia diduga bermasalah.

Karena itu, Purbaya bertekad mengejar ketertinggalan ini. Caranya? Dengan memanfaatkan teknologi.

Dia mengaku akan menerapkan Artificial Intelligence (AI) dalam pelaporan pajak, khususnya untuk industri perkebunan sawit. Harapannya jelas: mematikan celah kecurangan dan mengamankan penerimaan negara.

“Kita akan pakai teknologi AI agar memastikan bahwa pemasukan Indonesia tidak lagi bocor,” tegasnya.

Langkah ini diyakini bisa memaksa para pengusaha untuk jujur. Sebab, berbohong pada sistem yang dibantu kecerdasan buatan bakal jauh lebih sulit. Tinggal tunggu hasilnya saja nanti.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar