Ramadan, Tradisi Ziarah ke Makam Ulama dan Tokoh Sejarah di Sulawesi Selatan

- Rabu, 25 Februari 2026 | 20:00 WIB
Ramadan, Tradisi Ziarah ke Makam Ulama dan Tokoh Sejarah di Sulawesi Selatan

Bulan Ramadan memang punya makna yang mendalam. Bagi banyak orang, ini adalah waktu untuk memperbanyak ibadah dan amalan. Salah satu tradisi yang mengakar kuat di Sulawesi Selatan adalah berziarah ke makam para ulama dan tokoh penyebar dakwah. Lebih dari sekadar ritual, kegiatan ini menjadi cara untuk mengenang jasa-jasa mereka yang telah menanamkan ajaran Islam di tanah ini sejak berabad-abad lalu.

Dari Gowa sampai ke Makassar, suasana di beberapa kompleks makam terasa berbeda di bulan suci. Ramai. Peziarah datang silih berganti, mengisi hari-hari dengan doa dan renungan. Nah, berikut ini beberapa makam ulama di Sulsel yang selalu ramai dikunjungi, terutama saat Ramadan tiba.

Makam Syekh Yusuf Al-Makassari

Lokasinya ada di Jalan Syekh Yusuf, Lakiung, Kabupaten Gowa. Setiap hari besar Islam, tempat ini tak pernah sepi. Maklum, Syekh Yusuf bukan sembarang ulama. Lahir tahun 1626, ia adalah pahlawan nasional yang gigih melawan Belanda di Banten, bersama Sultan Ageng Tirtayasa.

Perjuangannya itu berujung pada pengasingan. Belanda membuangnya ke Sri Lanka, lalu ke Afrika Selatan. Baru pada 1705, jenazahnya dipulangkan ke Gowa atas permintaan Sultan. Kini, makam yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya itu tak hanya dikunjungi warga lokal. Peziarah dari luar negeri pun kerap terlihat.

Kompleks Makam Raja-raja Luwu di Lokkoe

Kalau ke Palopo, coba singgah ke kompleks Makam Lokkoe di Jalan Andi Jemma, Kelurahan Batupasi. Ini adalah tempat peristirahatan terakhir para datu atau raja Kerajaan Luwu beserta keluarganya. Nilai sejarah Islam di sini sangat kental.

Di antara makam-makam bangsawan itu, ada tokoh penting seperti Datuk Sulaiman atau yang dikenal juga sebagai Datuk Patimang. Ciri khasnya? Atap makamnya bertingkat tujuh, simbol derajat kebangsawanan yang tinggi. Arsitektur di sini memang unik, memadukan adat Luwu dengan Islam secara apik.

Makam Datuk ri Bandang

Nama aslinya Abdul Makmur, tapi lebih dikenal sebagai Datuk ri Bandang atau Khatib Tunggal. Ulama asal Minangkabau ini punya peran sentral. Dialah salah satu tokoh kunci yang mengislamkan raja-raja Gowa-Tallo di akhir abad ke-16. Dakwahnya kemudian merambah ke Luwu dan wilayah Indonesia Timur.

Mengingat jasanya yang besar, tak heran makamnya di Jalan Tarakan, Kelurahan Malimongan Baru, Makassar, selalu ramai diziarahi. Sama seperti situs lainnya, tempat ini telah resmi menjadi cagar budaya.

Makam Pangeran Diponegoro

Lokasinya agak tersembunyi di Kompleks Kampung Jawa, Kelurahan Melayu, Kota Makassar. Di sini, Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan. Ia ditangkap Belanda usai Perang Jawa dan dibawa ke Makassar pada 1834.

Meski dalam pengasingan, semangatnya tak padam. Ia aktif menyalin Al-Qur’an, menulis catatan spiritual, dan menyebarkan nilai-nilai Islam serta tasawuf. Di kompleks ini, terdapat 66 makam lain, yaitu keluarga dan pengikut setianya yang ikut diasingkan.

Pangeran Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855. Kini, ia dimakamkan berdampingan dengan sang istri, RA Ratu Ratnaningsih. Bagi banyak peziarah, makam ini adalah pengingat akan keteguhan hati dan perlawanan seorang pangeran yang tak pernah benar-benar menyerah.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar