Di Istana Basman, Amman, Rabu lalu, Presiden Prabowo Subianto duduk berhadapan dengan Raja Abdullah II dari Yordania. Pertemuan bilateral itu bukan sekadar kunjungan biasa. Intinya jelas: bagaimana Indonesia dan Yordania bisa bersinergi lebih kuat menangani krisis kemanusiaan yang memilukan di Timur Tengah, khususnya Palestina.
Prabowo langsung menekankan poin itu. Menurutnya, koordinasi dan kerja sama strategis antara kedua negara harus diperkuat. Situasi di Gaza, yang terus bergejolak, membutuhkan respons yang cepat dan tepat.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia, atas tawaran dukungan yang baik bagi kontingen kami," ujar Prabowo membuka pembicaraan.
Lalu ia menambahkan, "Kami berharap dapat menjalin koordinasi dan kerja sama yang erat, karena Anda berada paling dekat dengan persoalan di Gaza."
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Prabowo melihat posisi geografis Yordania yang berbatasan langsung dengan wilayah konflik sebagai faktor kunci. Kedekatan itu membuat Amman punya pemahaman situasi yang lebih riil dan mendalam.
Namun begitu, keprihatinannya tidak hanya tertuju ke Gaza. Prabowo juga menyoroti perkembangan di Tepi Barat yang makin memanas. Ia khawatir, gejolak di sana bisa menggagalkan upaya-upaya stabilisasi yang sedang dijalankan.
"Kami sangat prihatin terhadap permasalahan di Tepi Barat," tegasnya.
"Kami merasa hal ini dapat memengaruhi keberhasilan apa pun yang sedang kita upayakan di Gaza."
Di sisi lain, ada optimisme. Prabowo menilai Indonesia dan Yordania punya visi yang sejalan dengan banyak negara di kawasan. Visi itu sederhana: mendorong stabilitas dan mencari jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan.
Nah, untuk mewujudkannya, Prabowo mendorong agar koordinasi ditingkatkan. Bukan sekadar pertukaran informasi, tapi kerja tim yang solid agar respons terhadap setiap perkembangan bisa lebih efektif.
"Karena itu, kami ingin memperkuat dan meningkatkan kerja sama ini," paparnya.
"Saya pikir tim saya akan bekerja sangat dekat dengan tim Anda agar kita selalu berada pada posisi yang memahami situasi secara menyeluruh. Kita mengetahui dengan tepat apa yang akan terjadi."
Pertemuan di Amman ini, pada akhirnya, lebih dari sekadar agenda diplomatik. Ia menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk tak berpangku tangan. Untuk aktif dalam diplomasi kemanusiaan, dan bersinergi dengan mitra-mitra kunci seperti Yordania. Tujuannya satu: mendorong perdamaian dan melindungi warga Palestina yang terus menderita.
Artikel Terkait
Investor China dan Hong Kong Dilarang Ikut IPO SpaceX, Alihkan Buruan ke Saham Terkait
Ekonom: RI Tak Akan Ulangi Krisis 1998, Tantangan Kini Bergeser ke Daya Beli Kelas Menengah
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026
The Super Mario Galaxy Movie Tembus Satu Miliar Dolar AS di Box Office Global