SEMARANG Stadion Gelora Delta Sidoarjo sore itu sunyi dari selebrasi heboh. Para pemain PSIS cuma saling tepuk bahu, beberapa mengangkat tangan ke arah tribun kecil tempat suporter mereka berkumpul. Tapi jangan salah, di balik kemenangan tipis 1-0 atas Deltras itu, ada sesuatu yang jauh lebih berharga ketimbang tiga poin biasa. Harapan, yang selama ini redup, tiba-tiba menyala lagi.
Bagi Mahesa Jenar, hasil ini bukan cuma angka. Rasanya seperti bisa bernapas lega setelah berbulan-bulan tercekik di lorong sempit zona degradasi Grup Timur. Tekanan itu nyata, dan kemenangan tandang ini ibarat secercah cahaya di ujung terowongan.
Gol penentu datang dari Raffinha, sang penyerang anyar asal Brasil. Dia datang dengan status pinjaman dari PSIM, langsung dibebani ekspektasi besar. Dan tekanan itu memuncak tepat saat wasit menunjuk titik putih. Di tengah sorak-sorai pendukung tuan rumah, Raffinha melangkah tenang. Tanpa gaya-gayaan, dia menjalankan tugasnya dengan dingin: bola masuk, PSIS menang. Sederhana, tapi mahal harganya.
Secara statistik, itu cuma satu gol. Tapi dampaknya terasa jauh melampaui papan skor.
Lebih Dari Sekadar Penalti
Sejak awal musim, PSIS memang tampak limbung. Performa mereka naik-turun. Sering bermain bagus, tapi gagal mengamankan hasil. Akibatnya, klub dengan basis suporter besar ini terperosok di papan bawah klasemen posisi yang sama sekali tak mencerminkan sejarah panjang mereka.
Nah, kemenangan di Sidoarjo ini bisa jadi titik balik psikologis yang mereka tunggu.
Raffinha sendiri paham betul arti momen ini. Usai laga, lewat kanal resmi klub, dia menyampaikan pesan langsung ke suporter. Isinya singkat dan tegas.
Dia minta semua pihak percaya: pada pemain, pelatih, manajemen, dan proses yang sedang dijalani. Ini bukan sekadar omong kosong pemain baru. Nada bicaranya menunjukkan keyakinan yang datang dari dalam ruang ganti. Menurutnya, dukungan suporter, bahkan di kandang lawan, adalah energi ekstra yang menjaga semangat tim hingga peluit akhir. Di Liga 2 yang keras, faktor mental sering jadi penentu nasib.
Zona Merah yang Mulai Retak
Secara posisi, PSIS memang belum benar-benar aman. Mereka masih nangkring di peringkat sembilan Grup Timur, persis di bibir jurang degradasi.
Tapi coba lihat selisih poinnya. Jarak dengan Persiba Balikpapan di zona aman kini cuma satu angka.
Selisih tipis itu mengubah segalanya. Di kompetisi ketat seperti ini, satu kemenangan bisa mengangkat tim beberapa anak tangga sekaligus. Keluar dari zona merah bukan lagi khayalan, melainkan target yang sangat mungkin diraih dalam beberapa pekan ke depan.
Artikel Terkait
Agen Wirtz Ungkap Upaya Gagal Bawa Kliennya ke Real Madrid
Bernardo Tavares Hadapi Mantan Klub PSM Saup Persebaya di BRI Liga 1
Manchester United Incar Elliot Anderson untuk Perkuat Lini Tengah
Erick Thohir Beberkan 20 Program Strategis Kemenpora, Target Tuntas 2026