Program imunisasi nasional yang dijalankan pemerintah terbukti efektif mencegah lonjakan kasus campak di Kota Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Rustam, menyatakan bahwa hingga saat ini situasi penyakit tersebut masih dalam kondisi aman dan terkendali. Keberhasilan ini tidak terlepas dari tingginya partisipasi masyarakat dalam membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan imunisasi secara rutin di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Sepanjang tahun 2025, tercatat hanya sepuluh kasus campak dan dua kasus rubella di kota tersebut. Memasuki tahun 2026, terdapat 26 laporan kasus yang diduga campak, dan beberapa sampel telah dikirim ke laboratorium untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Meskipun jumlah laporan meningkat, Rustam menegaskan bahwa kondisi ini masih dalam batas wajar dan tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih.
“Situasi kasus campak di Tanjungpinang saat ini masih dalam kondisi aman dan terkendali,” ujarnya.
Campak merupakan penyakit infeksi virus akut yang sangat mudah menular dan menyerang saluran pernapasan. Gejala khasnya berupa ruam kemerahan yang muncul di seluruh tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus dan paling sering menyerang anak-anak, meskipun orang dewasa yang belum memiliki kekebalan juga berisiko terinfeksi.
Untuk memberikan perlindungan optimal, imunisasi campak diberikan dalam tiga dosis sebagai bagian dari program imunisasi nasional. Dosis pertama diberikan saat anak berusia sembilan bulan guna memberikan perlindungan awal. Dosis kedua, yang berfungsi sebagai booster, diberikan ketika anak berusia antara 15 hingga 18 bulan. Sementara itu, dosis ketiga diberikan saat anak berusia lima hingga tujuh tahun atau ketika memasuki kelas satu sekolah dasar.
Rustam menjelaskan bahwa efek samping imunisasi campak umumnya bersifat ringan dan tidak membahayakan. “Efek samping yang paling sering muncul adalah demam setelah imunisasi, dan kondisi tersebut merupakan respons tubuh yang normal terhadap vaksin,” katanya. Ia menegaskan bahwa imunisasi campak tidak menimbulkan efek samping berat bagi anak-anak.
Selain vaksin campak, pemerintah juga menyediakan berbagai jenis imunisasi lain yang disesuaikan dengan usia anak. Imunisasi hepatitis B diberikan sejak bayi baru lahir untuk mencegah infeksi virus hepatitis B. Pemerintah juga menyediakan vaksin polio guna mencegah kelumpuhan akibat infeksi virus polio, serta vaksin pertusis atau batuk rejan yang turut menjadi bagian dari program imunisasi nasional. Tidak hanya itu, tersedia pula vaksin untuk membantu mencegah diare berat pada anak.
Layanan imunisasi bagi bayi dan balita tersedia secara rutin setiap bulan melalui posyandu maupun puskesmas. Orang tua dapat memantau jadwal imunisasi anak melalui buku kesehatan ibu dan anak yang diberikan oleh petugas kesehatan. Jadwal imunisasi setiap anak disesuaikan dengan usia serta tahapan tumbuh kembang masing-masing, sehingga perlindungan terhadap penyakit dapat diberikan secara tepat dan optimal.
Artikel Terkait
Ratusan Lampion Meriahkan Perayaan Waisak di Bundaran HI, Warga Antusias Berfoto
Israel Putus Kontak dengan Sekjen PBB Guterres Usai Masuk Daftar Hitam Kekerasan Seksual
Harga TBS Sawit Anjlok di Sejumlah Daerah Usai Pemerintah Bentuk Danantara, Petani Langkat Keluhkan Penurunan hingga Rp2.300 per Kg
Pemuda di Batam Lukai Tangan Sendiri Lalu Pura-pura Jadi Korban Pembegalan karena Putus Cinta