Awal Januari 2026, Amerika Serikat berhasil menangkap Nicolás Maduro. Bagi Washington, ini jelas sebuah kemenangan geopolitik di Belahan Bumi Barat. Simbol perlawanan paling keras di Amerika Latin akhirnya tumbang, setelah lebih dari sepuluh tahun rezimnya membangkang. Tapi tunggu dulu. Sejarah sudah sering membuktikan, jatuhnya seorang diktator bukanlah akhir cerita. Justru, di sinilah masalah yang sebenarnya mulai menggeliat.
Faktanya, runtuhnya rezim Maduro malah membuka babak baru yang jauh lebih pelik dan berbahaya. Amerika kini tak cuma sibuk memikirkan siapa pengganti di Caracas. Mereka harus menghadapi kenyataan pahit: mengelola sebuah negara yang nyaris bangkrut total. Belum lagi pasar energi yang bergejolak, plus reaksi keras dari kekuatan global yang selama ini memandang Venezuela sebagai medan tempur proksi. Repot sekali.
Jangan salah paham. Intervensi Washington ini bukanlah misi kemanusiaan atau idealisme demokratisasi murni. Kalau mau jujur, ini lebih mirip kalkulasi realis yang dingin. Venezuela, toh, punya cadangan minyak terbesar di dunia. Mengontrol sumber daya itu adalah kepentingan strategis utama AS. Jadi, upaya membuka kembali akses bagi perusahaan-perusahaan energi Amerika bukan cuma urusan bisnis belaka. Ini sekaligus cara untuk mengamankan pasokan energi domestik dan menekan pengaruh aktor-aktor di luar blok Barat.
Di sisi lain, tumbangnya Maduro punya efek domino yang langsung terasa. Aliran minyak bersubsidi untuk Kuba lambang resistensi anti-Amerika di Karibia terputus begitu saja. Bagi Washington, melemahkan Caracas sama artinya dengan memukul Havana. Belum lagi soal Tiongkok. Selama bertahun-tahun, Venezuela jadi penyangga energi penting bagi Beijing. Mengganggu suplai ini jelas bagian dari strategi containment dalam persaingan panas antara dua raksasa itu.
Namun begitu, masalah besar segera muncul. Setelah struktur kekuasaan dirobohkan, Amerika terjebak dalam dilema klasik yang sering disebut Doktrin Pottery Barn: siapa yang memecahkan, dia yang harus membayar. Tanpa Maduro, ancaman kekosongan kekuasaan dan perpecahan jadi sangat nyata. Di sinilah pragmatisme Trump terlihat jelas. Alih-alih mendorong oposisi demokratis, Washington malah merangkul sisa-sisa elit lama. Tujuannya cuma satu: menjaga birokrasi dan sektor minyak tetap stabil dan berjalan.
Artikel Terkait
Poligami Dihukum Lebih Berat, Kohabitasi Diringankan: Paradoks KUHP Baru
Anies Baswedan dan Tiga Lapis Strategi Menuju 2029
Iran Tegas Tangani Perusuh, Unjuk Rasa Bergulir ke 45 Kota
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Muhammadiyah dan NU Tegaskan Bukan Sikap Resmi