Suara Warga yang Akrab dengan Kemacetan
Lalu, bagaimana kondisi di lapangan? Kamis pagi pekan lalu, kemacetan lagi-lagi terjadi. Volume kendaraan yang tinggi bertemu dengan ruas jalan yang sempit, hasilnya sudah bisa ditebak: jalanan macet total.
Wisnu, seorang pengendara motor berusia 30 tahun, mengeluh. Ia setiap hari harus melewati jalan ini untuk berangkat kerja.
“Saya kalau kerja memang lewat sini. Jalan di wilayah sini memang perlu pelebaran, lihat saja jalurnya kecil,”
katanya. Menurutnya, lebar jalan yang cuma cukup untuk dua mobil bikin semua orang susah menyalip. Apalagi kalau volume kendaraan lagi padat.
Keluhan serupa datang dari Yusa (34). Bagi dia, macet di Sawangan adalah menu harian.
“Tiap hari saya berhadapan dengan macet di jalur sini. Jalan di wilayah sini itu kurang lebar, ditambah ada Transjakarta,”
ujarnya.
Ukuran bus Transjakarta yang besar, menurut Yusa, jadi masalah lain. Satu lajur jalan seolah tertutup, mempersulit motor untuk mendahului. Akibatnya, kendaraan menumpuk di belakang bus.
“Kondisi jalan di Jakarta saja itu bisa makan tempat, makanya dikasih jalur khusus. Nah, di Sawangan jalurnya tidak ada, tapi dipaksakan. Ya memang ada dampaknya buat orang-orang yang perjalanan jauh,”
katanya. Intinya, ketiadaan jalur khusus untuk Transjakarta dinilai justru memperparah kemacetan yang sudah ada.
Artikel Terkait
Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa
Isu Kabur dan Aset Miliaran: Mengapa Narasi Pelarian Khamenei Tak Menyentuh Realitas?
KPK Gelar OTT di Kantor Pajak Jakarta Utara, Dugaan Manipulasi Pengurangan Pajak
Poligami Dihukum Lebih Berat, Kohabitasi Diringankan: Paradoks KUHP Baru