Sariwangi Resmi Berpindah Tangan ke Djarum Group dengan Harga Rp 1,5 Triliun

- Kamis, 08 Januari 2026 | 16:35 WIB
Sariwangi Resmi Berpindah Tangan ke Djarum Group dengan Harga Rp 1,5 Triliun

Unilever Indonesia resmi melepas bisnis teh Sariwangi. Merek ikonik itu kini berpindah tangan ke PT Saviora Kreasi Rasa, yang tak lain adalah bagian dari Djarum Group. Nilai transaksinya? Cukup fantastis, mencapai Rp 1,5 triliun.

Kesepakatan ini sudah ditandatangani kedua belah pihak awal Januari lalu, tepatnya tanggal 6. Mereka menargetkan seluruh proses akan rampung pada 2 Maret 2026 mendatang. Jadi, masih ada beberapa langkah lagi sebelum Sariwangi sepenuhnya berubah kepemilikan.

Menariknya, angka Rp 1,5 triliun itu dinilai cukup masuk akal. Sebab, hasil penilaian independen dari KJPP Suwendho Rinaldy sebelumnya memperkirakan nilai bisnis Sariwangi berkisar di angka Rp 1,49 triliun. Jadi, selisihnya tidak terlalu jauh.

Sekretaris Perusahaan Unilever, Padwestiana Kristanti, memberikan penjelasan lebih rinci.

"Nilai transaksi ini setara dengan 45 persen dari ekuitas perseroan, berdasarkan laporan keuangan per September 2025," ujarnya.

Lepasnya Sariwangi sebenarnya bukan hal yang mengejutkan bagi Unilever. Soalnya, kontribusi merek teh ini terhadap perusahaan secara keseluruhan memang tidak terlalu besar. Asetnya cuma sekitar 2,5% dari total aset Unilever. Sumbangan pendapatan dan laba bersihnya pun di bawah 5%. Jadi, bagi Unilever, ini seperti merapikan portofolio bisnis.

Di sisi lain, langkah ini sejalan dengan strategi global induk perusahaannya. Andrianto Saputra, analis dari Indopremier Sekuritas, melihat ini sebagai bagian dari fokus Unilever ke segmen yang lebih menguntungkan.

"Mereka kini lebih berkonsentrasi pada Household & Personal Care. Segmen ini pertumbuhannya lebih cepat dan marginnya lebih tinggi ketimbang Food & Refreshment," jelas Andri.

Ini bukan divestasi pertama Unilever belakangan ini. Mereka baru saja melepas bisnis es krim Magnum dengan nilai Rp 7 triliun. Menurut Andri, sangat mungkin Unilever akan melepas lagi unit bisnis lain di segmen Food & Refreshment, yang saat ini masih menyumbang lebih dari sepertiga total pendapatannya.

Dari sisi valuasi, transaksi Sariwangi ini setara dengan 3,4 kali nilai ekuitasnya. Kalau dilihat dari laba, PER-nya sekitar 10,9 kali. Angka ini dianggap wajar, meski sedikit di bawah rata-rata industri yang ada di 12,3 kali. Namun begitu, jauh lebih rendah dari rata-rata transaksi divestasi Unilever sebelumnya yang bisa mencapai 24 kali.

"Kami memperkirakan akan ada dividen spesial sekitar Rp 828 miliar pasca-transaksi ini. Dividend yield-nya kira-kira 0,8 persen," tambah Andri.

Bagi banyak orang, Sariwangi bukan sekadar merek. Ia adalah bagian dari kenangan. Berdiri sejak 1973 dan diakuisisi Unilever pada 1989, nama itu sudah puluhan tahun menghangatkan ruang keluarga. Kini, perjalanannya akan dilanjutkan oleh Saviora. Perusahaan yang masih relatif baru ini sedang gencar membangun portofolio, dan dengan masuknya Sariwangi, mereka kini punya amunisi lebih kuat di pasar.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar