Sementara itu, dari kacamata Danantara, Krakatau Steel dinilai sebagai industri strategis yang harus segera dipulihkan. Apalagi, kebutuhan baja domestik dan regional diprediksi terus meroket.
Managing Director Business-3 Danantara Asset Management, Febriany Eddy, menekankan pentingnya revitalisasi BUMN baja ini. Tujuannya agar bisa mengimbangi laju pertumbuhan sektor konstruksi, transportasi, dan manufaktur.
“Pertumbuhan industri baja selalu selaras dengan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, melihat industri baja tidak bisa hanya dari kondisi hari ini,” katanya.
Bagi Danantara, industri baja adalah investasi jangka panjang yang mutlak memerlukan efisiensi berkelanjutan.
“Investasinya bersifat jangka panjang 10 sampai 15 tahun ke depan. You invest for tomorrow, not today. Tetapi hari ini industrinya tetap harus efisien dan efektif,” tegas Febriany.
Dukungan ini juga punya relevansi strategis yang dalam. Ia selaras dengan agenda pembangunan nasional dalam kerangka Asta Cita Presiden RI, yang menekankan kemandirian industri, hilirisasi manufaktur, serta kedaulatan rantai pasok baja untuk infrastruktur dan pertahanan.
Dengan semua langkah perbaikan dan dukungan strategis yang berjalan, Krakatau Steel melangkah ke 2025 dengan optimisme. Mereka yakin posisinya kini lebih kuat dan siap mencetak laba secara berkelanjutan.
Artikel Terkait
BSDE Targetkan Prapenjualan Rp10 Triliun pada 2026, Andalkan BSD City
DIVA Lepas 28,5 Juta Saham Treasuri ke Pasar Mulai 11 Maret
RMK Energy Beli Kembali 2,3 Juta Saham Senilai Rp10 Miliar
IHSG Naik 0,50%, Saham JAYA Melonjak 35% Jadi Top Gainer