Daratan timur laut Greenland, termasuk area yang masih tertutup es, konon menyimpan sekitar 31 miliar barel setara minyak. Jumlah itu kira-kira setara dengan seluruh cadangan minyak mentah yang dimiliki Amerika Serikat.
Sebenarnya, aktivitas penambangan di Greenland sudah berlangsung lama, sejak abad ke-18. Timbal, tembaga, besi, dan seng sudah diekstraksi, meski dalam skala terbatas. Yang berbeda sekarang adalah taruhannya. Teknologi yang lebih maju, desakan krisis iklim, dan kebutuhan gila-gilaan akan bahan baku energi bersih membuat Greenland terlihat lebih menggiurkan daripada era mana pun sebelumnya.
Di sinilah paradoks pahitnya muncul. Banyak dari sumber daya ini terkurung di bawah es. Ironisnya, perubahan iklim justru membuka kunci penjara itu. Es yang mencair mempermudah eksplorasi, tapi sekaligus memperbesar risiko. Pencairan es Greenland secara langsung mendongkrak permukaan laut global dampaknya akan dirasakan sampai ke pelosok dunia yang jauh dari Arktik.
Politiknya pun ruwet. Greenland memang wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, dengan kewenangan penuh mengatur sumber daya alamnya sendiri. Namun, kepentingan negara-negara besar seperti AS, Uni Eropa, dan China selalu mengintip di balik setiap pembicaraan tentang masa depan pulau ini. Ketergantungan global pada rantai pasok mineral kritis telah mengangkat Greenland ke papan atas percaturan geopolitik.
Bahkan Presiden AS Donald Trump pernah dilaporkan berniat membeli Greenland. Itu cukup menggambarkan betapa berharganya pulau ini di mata dunia.
Pemerintah Greenland sendiri kini serba salah. Di satu sisi, membuka keran eksploitasi bisa mendongkrak ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong kemandirian. Di sisi lain, bayang-bayang kerusakan lingkungan dan terganggunya kehidupan masyarakat lokal, terutama suku Inuit yang hidupnya bersandar pada alam, menjadi kekhawatiran yang sangat nyata.
Pada akhirnya, Greenland lebih dari sekadar hamparan es. Ia adalah titik temu yang unik: tempat sejarah bumi bertemu dengan krisis iklim, teknologi masa depan, dan perebutan pengaruh global. Apa pun yang terjadi di sana dalam beberapa dekade mendatang, dampaknya akan merambat jauh. Mungkin sampai ke genggaman ponsel kita, atau listrik yang menerangi rumah.
Artikel Terkait
Gelombang Email Reset Password Instagram: Bug atau Ancaman Kebocoran Data?
Sinyal Kembali 100%: Telkomsel Pulihkan Jaringan di Tiga Provinsi Pascabanjir
Trump Cabut AS dari 66 Lembaga Internasional, Tinggalkan Dunia Sendirian Hadapi Krisis Iklim
Gmail Gratis Kini Dapatkan Otak AI, Fitur Premium Dibuka untuk Semua