Aktivis Laporkan Praktik Tak Manusiawi di Ribuan Panti Disabilitas Mental ke Kemensos

- Jumat, 27 Februari 2026 | 18:55 WIB
Aktivis Laporkan Praktik Tak Manusiawi di Ribuan Panti Disabilitas Mental ke Kemensos

Kantor Kementerian Sosial mendadak ramai, Jumat lalu. Bukan karena rapat biasa, melainkan kedatangan aktivis Himpunan Jiwa Sehat, Yenny Rosa Damayanti, yang disambut langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Wakil Menterinya, Agus Jabo Priyono. Mereka datang membawa laporan yang cukup mengusik: temuan praktik tak manusiawi di banyak panti sosial untuk penyandang disabilitas mental.

Menurut sejumlah saksi yang ikut bersama Yenny, kondisi di lapangan jauh dari kata layak. Isu ini sebenarnya sudah lama, tapi sepertinya luput dari sorotan.

“Di sejumlah tempat, kami menemukan penghuni dipasung dan dirantai. Makanan tidak layak. Bahkan ada yang hanya dimandikan sebulan sekali menggunakan sabun deterjen,” ujar Yenny dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Paparan Yenny cukup mencengangkan. Ia menyebut hampir 20.000 panti sosial mayoritas di Pulau Jawa terindikasi menjalankan praktik serupa. Sungguh ironis. Tempat yang seharusnya jadi ruang pemulihan malah berubah jadi sumber penderitaan baru.

Yang tak kalah memprihatinkan, banyak dari panti ini tetap memungut biaya dari keluarga. Kisarannya bervariasi, mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 2,5 juta per bulan. Padahal, pelayanan yang diberikan jauh dari standar.

“Sebagian panti tetap menarik bayaran, tapi perlakuannya tidak manusiawi,” tegasnya.

Yenny mengaku laporan ini sudah disampaikan bertahun-tahun, sejak 2016. Namun, respons yang diterima dinilai belum memadai. “Kami sudah berkali-kali melaporkan sejak 2016. Harapan kami, sekarang ada langkah nyata,” harapnya.

Ia mendesak tindakan cepat. Hal paling mendesak, menurutnya, adalah menghentikan segala bentuk kekerasan dan perlakuan merendahkan martabat manusia di panti-panti tersebut.

“Yang paling mendesak: hentikan dulu segala bentuk kekerasan dan praktik tidak manusiawi. Setelah itu, negara harus menertibkan, melindungi, dan memulihkan para korban,” kata Yenny.

Menanggapi laporan itu, Gus Ipul mengapresiasi kedatangan Yenny. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah.

“Saya berterima kasih karena Ibu Yenny datang membawa data, fakta, dan kesaksian. Ini menjadi penguat bagi kita untuk bertindak,” kata Gus Ipul.

“Kita perlu bekerja bersama. Setiap langkah harus berbasis bukti agar tindakan kita tepat sasaran dan berdampak,” tambahnya.

Gus Ipul mengungkapkan, Kemensos sebenarnya sudah mulai bergerak sejak tahun lalu dengan proses registrasi ulang Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Ini bagian dari upaya pembenahan sistem secara menyeluruh. Namun begitu, ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah.

“Kita ingin memastikan mereka tidak lagi hidup dalam pengabaian. Mereka harus mendapat perlindungan, pemulihan, dan martabatnya dikembalikan sebagai manusia,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Gus Ipul menyampaikan empat poin strategis yang akan diperkuat. Pertama, memastikan seluruh LKS terdaftar resmi. Kedua, memperkuat proses akreditasi sesuai standar, termasuk memperbaiki instrumen penilaiannya. Ketiga, meningkatkan pengawasan dengan melibatkan partisipasi publik. Dan keempat, memperjelas serta memperkuat sanksi untuk setiap pelanggaran.

Pertemuan ini diharapkan jadi awal kolaborasi yang lebih solid. Bukan sekadar mendengar laporan, tapi benar-benar bertindak.

“Negara tidak boleh hanya mendengar. Negara harus hadir dan bertindak,” pungkas Gus Ipul menutup pertemuan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar