Selamat pagi, ini edisi Jumat, 27 Februari 2026. Dunia Hari Ini menyajikan sejumlah laporan penting yang patut Anda simak.
Pengungsi Tunanetra Myanmar Ditemukan Meninggal di New York
Seorang pengungsi tunanetra asal Myanmar, Nurul Amin Shah Alam (56), ditemukan meninggal dunia. Ia hilang setelah diturunkan oleh agen Patroli Perbatasan AS di sebuah toko donat di New York. Lima hari kemudian, nasibnya berakhir tragis.
Peristiwa ini langsung memicu penyelidikan polisi. Banyak yang mengeluh, pria itu seolah cuma diturunkan dan ditinggalkan begitu saja tanpa mempertimbangkan keselamatannya. Padahal, suhu saat itu sangat ekstrem jauh di bawah titik beku.
Nurul Amin sebelumnya ditahan pada 19 Februari, usai dibebaskan dari penjara daerah di Buffalo. Namun, otoritas federal kemudian membebaskannya di hari yang sama karena dinilai tak memenuhi syarat untuk dideportasi.
Banjir Sydney: Listrik Padam, Warga Dievakuasi
Hujan deras dan banjir bandang melanda Sydney, mengakibatkan kerusakan di sejumlah wilayah. Puluhan orang harus diselamatkan, sementara ribuan properti gelap gulita akibat pemadaman listrik.
Wilayah yang paling terdampak pemadaman adalah pinggiran kota Dural, Sackville, dan Glenwood. Daerah selatan seperti Arncliffe, Banksia, dan Rockdale juga tak luput. Petugas berusaha memulihkan layanan sepanjang malam.
Menurut Layanan Darurat Negara Bagian (SES), ada 40 penyelamatan korban banjir yang dilakukan hanya dalam kurun tiga jam tadi malam. Mereka menerima lebih dari 490 panggilan minta tolong sejak banjir mulai melanda.
Curah hujannya memang luar biasa. Di Lidcombe, tercatat lebih dari 104 milimeter hujan jatuh dalam tiga jam. Canterbury kebagian 69 mm, sementara Bandara Bankstown sekitar 67 mm.
PM Denmark Mette Frederiksen Serukan Pemilu
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen baru saja mengumumkan pemilihan parlemen akan digelar pada 24 Maret mendatang. Langkah ini diambil di tengah lonjakan dukungan terhadap sikap tegasnya menolak tekanan AS soal Greenland.
Frederiksen memang menghabiskan beberapa bulan terakhir menggalang dukungan para pemimpin Eropa. Tujuannya, melawan keinginan Presiden AS Donald Trump yang kembali ingin mencaplok pulau Arktik itu. Jajak pendapat menunjukkan upayanya berhasil meningkatkan popularitasnya, setelah sebelumnya publik sempat tidak puas dengan naiknya biaya hidup dan tekanan pada layanan kesejahteraan.
"Ini akan menjadi pemilihan yang menentukan," ujar Frederiksen.
"Karena dalam empat tahun ke depan, kita sebagai warga Denmark dan sebagai warga Eropa benar-benar harus berdiri di atas kaki kita sendiri," tambahnya.
Hillary Clinton Kecam Komite Kongres Soal Epstein
Hillary Clinton melayangkan kritik pedas kepada komite Kongres yang dikendalikan Partai Republik. Ia dikecam karena dipanggil untuk menjawab pertanyaan terkait Jeffrey Epstein, sementara Presiden Donald Trump justru tidak.
"Anda telah memaksa saya untuk bersaksi, sepenuhnya menyadari saya tidak memiliki pengetahuan yang akan membantu penyelidikan Anda," kata Clinton.
"Ini cuma untuk mengalihkan perhatian dari tindakan Presiden Trump dan menutupinya, meskipun ada seruan yang sah untuk mendapatkan jawaban darinya," sambungnya.
Mantan ibu negara itu memberikan keterangan dalam deposisi tertutup di hadapan Komite Pengawasan DPR, sehari sebelum suaminya, Bill Clinton, melakukan hal serupa.
Bill Clinton memang muncul dalam sejumlah foto dan dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman (DOJ). Namun, ia membantah keras keterkaitan apa pun.
"Saya tidak pernah terbang dengan pesawatnya atau mengunjungi pulau, rumah, atau kantornya," katanya. Bahkan, ia mengaku tidak ingat pernah bertemu dengan mendiang pelaku kejahatan seksual itu.
Artikel Terkait
Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Tutup Usia, Dimakamkan Secara Militer di TMP Kalibata
Nova Arianto Siap Rotasi Besar-besaran Lawan Timor Leste demi Uji Kedalaman Skuad Timnas U-19
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 14 Orang, Langgar Gencatan Senjata
Kebakaran Hanguskan Rumah Panggung di Muara Karang, Petugas Kerahkan 15 Damkar dan Manfaatkan Air Laut