PM Anwar Umumkan Kapal Malaysia Diizinkan Melintasi Selat Hormuz

- Jumat, 27 Maret 2026 | 11:40 WIB
PM Anwar Umumkan Kapal Malaysia Diizinkan Melintasi Selat Hormuz

Kabar baik datang dari Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi, ia mengumumkan bahwa kapal-kapal negaranya akhirnya diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz. Izin ini didapat setelah serangkaian pembicaraan intens dengan sejumlah pemimpin Timur Tengah.

“Kami sekarang sedang dalam proses memulangkan kapal tanker minyak Malaysia," ujar Anwar, dengan nada lega terasa jelas.

Ia secara khusus menyebut nama Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang disebutnya berperan penting dalam pemberian izin tersebut. Langkah ini tentu sangat krusial bagi Kuala Lumpur. Meski sendiri merupakan produsen minyak, nyatanya separuh lebih pasokan minyak Malaysia justru diangkut melalui selat sempit itu. Jadi, wajar saja jika ketegangan di kawasan langsung berimbas pada mereka.

“Blokade di Selat Hormuz, perang, dan terhentinya pasokan minyak dan gas semuanya berdampak pada kami,” keluh Anwar, menggambarkan betapa rentannya posisi mereka.

Sejak akhir bulan lalu, situasi di sana memang memanas. Iran, sebagai bentuk balasan atas serangan AS dan Israel, memblokade jalur air strategis tersebut. Hanya segelintir kapal kargo dan tanker yang berhasil melintas. Namun begitu, tampaknya ada celah diplomasi yang masih bisa bekerja.

Buktinya, Malaysia bukanlah satu-satunya negara yang berhasil menembus blokade. Awal pekan ini, sebuah tanker minyak milik perusahaan Thailand, Bangchak Corporation, juga berlayar dengan selamat. Menurut seorang pejabat Thailand dan pemilik kapal, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun. Kesepakatan itu tercapai setelah Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, berbicara langsung dengan Kedutaan Besar Iran di Bangkok.

Di sisi lain, China juga disebut-sebut mendapat akses. Setidaknya dua kapal pengangkut LPG miliknya dilaporkan telah melintas. Meski begitu, ceritanya sedikit berbeda untuk kapal kontainer "Newvoyager"; kapal asal China itu dikabarkan harus melakukan pembayaran terlebih dahulu kepada otoritas Iran sebelum bisa melewati perairan yang sama.

Jadi, meski blokade masih berlaku, jalan diplomasi perlahan membuka celah. Setiap negara seolah mencari caranya sendiri untuk menjaga agar pasokan energi mereka tetap mengalir.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar