Sejak awal tahun ini, tepatnya 1 Januari lalu, pemerintah mulai menggelar opsi baru untuk registrasi kartu SIM: menggunakan wajah. Teknologi pengenalan wajah atau face recognition ini sifatnya masih sukarela. Tapi, langkah ini langsung menyulut perhatian. Banyak yang mempertanyakan, bagaimana penerapannya nanti di daerah-daerah terpencil, yang infrastrukturnya masih terbatas?
Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute, punya catatan penting. Menurutnya, penerapan teknologi semacam ini butuh kesiapan yang benar-benar matang. Terutama dari sisi Dukcapil, yang jadi pemegang utama database biometrik nasional.
"Standar keamanannya harus tinggi," tegas Heru.
Ia menambahkan, idealnya pemerintah sudah melakukan audit keamanan rutin. Sistem juga harus punya cadangan yang kuat seperti pusat data di beberapa lokasi dan rencana pemulihan bencana plus backup data yang sudah dienkripsi.
Heru juga mendorong penerapan konsep zero trust security. Akses data antara Dukcapil dan operator seluler, katanya, harus dipisah dengan jelas. Teknologi FR ini seharusnya cuma untuk verifikasi satu lawan satu, bukan untuk menyimpan ulang data wajah oleh operator.
Kalau sampai terjadi gangguan atau yang lebih parah kebocoran data? Risikonya besar. Kepercayaan publik bisa anjlok. Karena itu, negara wajib punya mekanisme cadangan dan protokol yang jelas untuk menangani insiden, termasuk cara memberi tahu publik dan memulihkan layanan.
Persoalan Nyata di Daerah 3T
Selain soal keamanan data, ada tantangan lain yang mungkin lebih pelik: kesiapan infrastruktur dan literasi digital di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Memaksakan digitalisasi penuh untuk registrasi SIM di daerah pelosok, tanpa persiapan memadai, justru bisa memunculkan masalah ketimpangan.
Heru memperingatkan, jangan samaratakan kebijakan ini untuk seluruh Indonesia. Solusinya? Pendekatan asimetris. Perlakukan teknis di kota besar pasti beda dengan di pedalaman.
Artikel Terkait
Mengapa Otak Kita Merindukan Debur Ombak Saat Stres?
Telkomsel Genjot Pemulihan Jaringan Pascabanjir Aceh, Capai 99%
OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Asisten Kesehatan yang Tak Gantikan Dokter
Jejak Purba di Batu: Kisah di Balik Fosil yang Membisu