Sirene peringatan meraung di Israel awal bulan ini. Tapi di tengah kepanikan, ribuan ponsel warga justru menerima pesan aneh pesan yang mengaku dari militer, mendesak mereka mengunduh aplikasi 'tempat perlindungan'. Aplikasi itu palsu, jebakan untuk mencuri data. Ini bukan kesalahan teknis biasa. Ini bagian dari perang.
Iran, menurut para analis, sedang membuka front pertempuran baru. Sementara rudal-rudalnya meluncur, pasukan sibernya juga dikerahkan habis-habisan. Targetnya jelas: menebar kekacauan dan memata-matai musuh.
"Iran mengerahkan seluruh kemampuan mereka dalam hal ini. Semua orang harus terlibat. Jika para ahli keamanan siber mereka masih hidup, mereka akan duduk di depan keyboard mereka,"
Kata Chris Krebs, mantan Direktur Badan Keamanan Siber AS (CISA). Pernyataannya bukan tanpa alasan.
Struktur pasukan siber Iran sendiri cukup kompleks. Lapisan teratas, yang paling berbahaya, dijalankan langsung oleh Korps Garda Revolusi dan Kementerian Intelijen. Di bawahnya, ada kelompok-kelompok semi-otonom dan penjahat siber bayaran. Lapisan ketiga adalah para 'relawan' atau aktivis siber yang mendukung rezim. Batas antar lapisan ini sering kabur, namun misinya satu: melemahkan lawan dengan cara apa pun.
Menariknya, kemampuan teknologi mereka sering dianggap tak secanggih Rusia atau China. Tapi justru itu yang jadi keunggulan taktis mereka. Dengan anggaran terbatas, mereka fokus pada serangan berbiaya rendah yang dampaknya bisa sangat besar mengganggu psikologi publik dan mencari celah keamanan.
Alexander Leslie dari Recorded Future melihat pola ini. "Aktivitas yang paling banyak dibicarakan belum tentu merupakan kampanye yang paling penting," katanya.
Maksudnya, serangan 'berisik' di permukaan sering jadi pengalih perhatian. Sementara di balik layar, kelompok elit mereka bekerja sunyi, menyusup jauh ke dalam jaringan target, mengumpulkan intelijen, dan bersembunyi menunggu waktu yang tepat.
Artikel Terkait
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI
Resident Evil Requiem Catat Rekor, Terjual 6 Juta Kopi dalam Dua Minggu
Pemerintah Larang Anak di Bawah 16 Tahun Buat Akun Media Sosial Mulai 2026