Di sisi lain, pertahanan AS justru terlihat rapuh di momen kritis ini. CISA, garda terdepan keamanan siber nasional, akan kehilangan direktur tetap awal tahun depan. Jumlah stafnya pun menyusut drastis. Yang lebih riskan, AS menggantungkan proteksi infrastruktur kritisnya pada sektor swasta sebuah kelemahan struktural yang sulit ditutupi dalam waktu singkat.
"Saya sangat prihatin. Kelemahan dalam pertahanan kita telah terungkap,"
ungkap Emily Harding dari Pusat Studi Strategis dan Internasional. Kekhawatirannya nyata.
Namun begitu, ada hal yang membuat beberapa ahli bertanya-tanya. Mengapa Iran belum melancarkan serangan besar-besaran ke target strategis seperti jaringan listrik atau sistem air AS? Mungkin serangan balasan Israel sempat melumpuhkan kapasitas mereka. Bisa juga karena pembatasan internet internal Iran justru membatasi gerak peretasnya sendiri. Atau, merancang malware yang benar-benar mematikan memang butuh waktu lama.
Tapi ada satu skenario yang paling mencemaskan: bahwa mereka sudah berada di dalam sistem kita, dan hanya menunggu perintah untuk menyerang.
"Mereka mungkin telah menyusup ke sistem sejak lama, dan mereka tidak siap untuk menghadapinya,"
peringat Andy Piazza dari Palo Alto Network. Ancaman itu seperti bayangan yang merayap pelan, jauh sebelum sirene berbunyi.
Artikel Terkait
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI
Resident Evil Requiem Catat Rekor, Terjual 6 Juta Kopi dalam Dua Minggu
Pemerintah Larang Anak di Bawah 16 Tahun Buat Akun Media Sosial Mulai 2026