Ekspor Indonesia Tumbuh 2,19% di Awal 2026, Ditopang Sektor Nonmigas

- Rabu, 01 April 2026 | 12:40 WIB
Ekspor Indonesia Tumbuh 2,19% di Awal 2026, Ditopang Sektor Nonmigas

Nilai ekspor Indonesia di awal tahun 2026 menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor kita pada periode Januari hingga Februari lalu mencapai angka USD44,32 miliar. Kalau dibandingin dengan periode yang sama di tahun 2025, terjadi kenaikan sekitar 2,19 persen.

Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (1/4/2026), Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, membeberkan rinciannya.

“Sepanjang Januari hingga Februari 2026 total nilai ekspor mencapai USD44,32 miliar atau naik 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelas Ateng.

Jadi, apa yang mendorong pertumbuhan ini? Ternyata, andil terbesar datang dari sektor nonmigas. Nilainya melesat ke angka USD42,35 miliar, tumbuh 2,82 persen. Sayangnya, ini agak tertutupi oleh kinerja sektor migas yang justru merosot 9,75 persen, hanya menyumbang USD1,97 miliar.

Nah, kalau kita telusuri lebih dalam, pahlawan di balik ekspor nonmigas ini adalah industri pengolahan. Sektor ini tumbuh pesat, 8,19 persen secara tahunan, dan menyumbang kontribusi besar sekitar 5,30 persen terhadap pertumbuhan ekspor nasional. Beberapa komoditasnya yang kinclong antara lain minyak sawit dan turunannya, lalu nikel, mobil, semikonduktor, sampai bahan kimia organik dari hasil pertanian.

Dari sisi pasar, China masih jadi tujuan utama. Ekspor nonmigas ke Negeri Tirai Bambu itu membengkak 18,24 persen, mencapai USD10,46 miliar hingga Februari. Performa ke Amerika Serikat, India, dan Uni Eropa juga positif. Namun begitu, ada catatan untuk kawasan ASEAN yang justru mengalami penurunan.

Bagaimana dengan performa bulanan? Pada Februari 2026 sendiri, nilai ekspor kita tercatat USD22,17 miliar, naik tipis 1,01 persen dari Februari tahun sebelumnya. Polanya mirip: migas turun 4,25 persen, sementara nonmigas naik 1,30 persen.

Ateng menambahkan, kenaikan di bulan Februari itu terutama ditopang oleh beberapa komoditas andalan.

“Pendorong utamanya adalah peningkatan pada komoditas seperti lemak dan minyak hewan atau nabati, nikel dan turunannya, serta mesin dan perlengkapan bagiannya,” paparnya.

Secara keseluruhan, data ini memberikan sinyal positif untuk perekonomian di kuartal pertama. Meski ada tekanan di sektor migas, gairah ekspor nonmigas terutama dari produk olahan ternyata mampu jadi penyangga yang cukup tangguh.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar