Presiden Prabowo Resmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Napak Tilas Perjuangan Buruh

- Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:20 WIB
Presiden Prabowo Resmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Napak Tilas Perjuangan Buruh

Pagi tadi, Desa Nglundo di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mendadak berubah menjadi pusat perhatian. Ribuan warga memadati kawasan tersebut sejak dini hari, bukan untuk sebuah pasar tumpah atau hajatan desa, melainkan untuk menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto yang akan meresmikan Museum Ibu Marsinah. Kehadiran kepala negara di tengah hamparan sawah dan rumah-rumah sederhana itu bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah napak tilas untuk menyambung rasa dengan sejarah perjuangan buruh Indonesia melalui sosok aktivis yang namanya telah menjadi legenda.

Sebelum menuju podium peresmian, Presiden Prabowo terlebih dahulu menyambangi sebuah hunian sederhana yang menjadi saksi bisu masa kecil Marsinah. Rumah panggung berdinding anyaman bambu itu berdiri kokoh di tengah desa, tempat di mana nilai-nilai keberanian dan perlawanan mulai ditanamkan. Kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu disambut hangat oleh keluarga besar Marsinah. Raut haru tak terbendung terpancar dari wajah Marsini, kakak almarhumah, dan Wijiati, sang adik. Para sepupu hingga keponakan turut berjejer, menyalami Presiden satu per satu dengan senyum ramah.

Presiden tampak didampingi oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya. Langkah demi langkah, rombongan memasuki rumah tersebut. Di sana, mantan Menteri Pertahanan itu diajak melihat setiap sudut hunian, hingga tiba di sebuah ruangan kecil kamar pribadi Marsinah. Di kamar itulah, Prabowo terdiam sejenak, menatap lekat jejak keseharian seorang perempuan muda yang kelak namanya abadi dalam sejarah buruh nasional.

Momen kekeluargaan itu pun diabadikan dengan sesi foto bersama di teras rumah, sebelum rombongan bergeser ke sisi sebelah kiri bangunan. Di situlah Museum Ibu Marsinah kini berdiri megah sebagai simbol penghormatan. Begitu memasuki area museum, Andi Gani langsung bertindak sebagai pemandu. Ia membawa Presiden menyusuri lorong-lorong ingatan yang disusun dengan rapi. Berhenti di depan sebuah lemari kaca, Andi Gani berkata, “Ini baju terakhir Pak, baju terakhir Bu Marsinah dengan tasnya.” Prabowo tampak menyimak dengan saksama, menatap lekat pakaian yang menjadi saksi bisu detik-detik terakhir hayat sang aktivis.

Langkah Presiden berlanjut menuju sebuah layar digital yang menampilkan kliping koran asli. Di sana terekam jelas bagaimana peristiwa pembunuhan Marsinah mengguncang tanah air pada tahun 1993, lengkap dengan catatan proses pengadilannya. Sejarah yang kelam itu kini disajikan secara transparan, agar generasi mendatang tak lupa pada harga sebuah keadilan. Tidak hanya berisi artefak, museum ini juga dilengkapi fasilitas unik di bagian belakang berupa rumah singgah. Fasilitas tersebut sengaja disediakan bagi para peziarah dari luar kota yang ingin memberikan penghormatan di makam Marsinah.

Setelah puas berkeliling, Presiden Prabowo keluar dan berdiri di depan museum. Peresmian pun dimulai, ditandai dengan penandatanganan prasasti yang akan melekat abadi di Museum Ibu Marsinah. “Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim pada pagi hari ini, Sabtu, 16 Mei 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur,” ucap Presiden dengan tegas. Museum ini rencananya akan dibuka untuk umum, dan keluarga Marsinah akan turut dilibatkan dalam pengelolaannya.

Usai prosesi peresmian, Presiden dan rombongan berziarah ke makam Marsinah yang masih berada di desa tersebut. Nama Marsinah sendiri telah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada Senin, 10 November 2025 lalu. Penganugerahan tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. Dikenal luas sebagai ikon perjuangan hak-hak pekerja, Marsinah gugur dalam memperjuangkan keadilan bagi rekan-rekannya di Sidoarjo pada tahun 1993. Kini, namanya menjadi pahlawan bangsa yang dikenang karena pengabdian dan keberaniannya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar