Di dataran tinggi barat laut Aljazair, terdapat sebuah kota yang menyimpan keindahan dan sejarah panjang peradaban. Tlemcen, yang dibangun di titik tertinggi wilayah tersebut, pernah menjadi pos pengamatan strategis untuk memantau pergerakan musuh di masa peperangan. Kini, kota itu menjelma menjadi permata budaya yang menyimpan sekitar 70 persen warisan sejarah dan arsitektur Islam Aljazair.
Sejumlah jurnalis dari berbagai negara, termasuk rombongan dari Indonesia, berkesempatan mengunjungi Tlemcen pada Jumat (16/5/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian acara 25th International Tourism and Travel Fair atau Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV). Perjalanan dimulai pukul 09.00 waktu setempat dari pusat Kota Oran menggunakan bus.
Dari Oran, rombongan harus menempuh perjalanan lebih dari tiga jam. Bukan tanpa alasan, jalur menuju Tlemcen mengharuskan kendaraan “membelah” hamparan sabana yang membentang luas. Bus melaju di Jalan Tol Timur-Barat (East-West Highway), sebuah jalur bebas hambatan sepanjang kurang lebih 1.500 kilometer yang membentang dari perbatasan Tunisia hingga perbatasan Maroko.
Lalu lintas di jalan tol itu tampak lengang. Di kiri dan kanan, pemandangan didominasi sabana, sesekali terlihat pemukiman kecil penduduk setempat. Menariknya, seluruh ruas jalan tol di Aljazair tidak dipungut biaya.
“Panjangnya sekitar 1.500 kilometer karena panjang garis pantainya sendiri sekitar 1.200 kilometer. Jalan tol ini jalurnya naik-turun dan berbelok-belok, tidak lurus, itulah mengapa jaraknya lebih panjang. Dan tentu saja gratis, kita tidak perlu membayar apa pun untuk menggunakan jalan tol mana pun di sini,” ujar seorang pemandu menjelaskan.
Rombongan tiba di kantor pemerintahan Kota Tlemcen pada pukul 12.30 waktu setempat. Matahari bersinar lebih terang dibandingkan di Oran, namun udara terasa sejuk dengan hembusan angin yang cukup kencang. Jalanan di pusat kota tampak sepi, kemungkinan karena Jumat dan Sabtu merupakan akhir pekan di Aljazair.
Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Wali Kota Tlemcen, Youcef Bechlaoui. Dalam perbincangan singkat, ia menjelaskan sekilas tentang kota yang dijuluki “Pearl of Maghreb” atau “Mutiara Maghreb”. Julukan itu diberikan karena arsitektur Islam-Andalusia yang megah serta peran kota ini sebagai pusat budaya dan intelektual di Afrika Utara.
Pada zaman Kekaisaran Romawi, Tlemcen dikenal dengan nama Pomaria. Nama kota ini kemudian berubah menjadi Agadir, yang dalam bahasa Berber berarti dinding atau benteng yang melindungi kota. Menariknya, terdapat tiga kota yang pernah menyandang nama Agadir.
“Ada Tlemcen yang dulunya disebut Agadir, ada kota Agadir di Maroko, dan ada Agadir di Spanyol, yaitu Cádiz,” jelas pemandu.
Karena letaknya yang sangat tinggi, Tlemcen menawarkan panorama 360 derajat. Pada masa peperangan, tentara penjaga dapat melihat hingga radius lebih dari 25 kilometer. Mereka bisa memantau seluruh hamparan lembah, dataran rendah, hingga perbatasan arah Maroko. Gerakan pasukan musuh yang mendekat dari kejauhan akan langsung terdeteksi sebelum mereka sempat mencapai kota.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Akan Berikan Bintang Mahaputera ke Kapolri dan Panglima TNI atas Kinerja
Persis Solo Hadapi Dewa United di Laga Hidup Mati demi Bertahan di Super League
Polri Bongkar Sindikat Narkoba di Samarinda, Amankan 13 Tersangka dengan Omzet Rp200 Juta Per Hari
Polri Bekuk 11 Anggota Sindikat Narkoba Licin di Samarinda, Terpaksa Ditindak Tegas