Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, menjelaskan bahwa setelah dinonaktifkan, keduanya dipanggil untuk diklarifikasi oleh tim tabayun yang dibentuk dengan surat tugas dari Dewan Pimpinan MUI.
Tim tersebut menemukan bahwa MAQ dan AR merupakan anggota organisasi bernama RAHIM, yang dalam situs resminya menggunakan atribusi sebagai pengurus MUI.
"Dua inisial tersebut sudah kita lakukan proses sesuai dengan prosedur dan tahapan-tahapan berdasarkan Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga, Peraturan Organisasi (PO) dan Kode Etik MUI, sehingga pemberhentian keduanya sebagai pengurus MUI dipastikan telah sesuai dengan tata kelola organisasi MUI," kata Buya Amirsyah, dikutip dari situs resmi MUI, Kamis (25/7/2024).
Tim tabayun yang melakukan klarifikasi terdiri atas pimpinan dan anggota Komisi Fatwa MUI yang diketuai oleh Wakil Ketua Komisi Fatwa, Prof Abdurrahman Dahlan, serta beberapa anggota lainnya seperti KH Miftahul Huda, Prof Jaih Mubarok, KH Muiz Ali, dan Dr Endi Estiwara.
Buya Amirsyah menyesalkan keterlibatan dua anggota MUI tersebut dalam kemitraan dengan lembaga yang terkait Israel, yang dinilai melukai hati nurani bangsa Indonesia yang selama ini mendukung kemerdekaan Palestina.
Artikel Terkait
Gelombang Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Padati Stasiun di Jakarta
Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Padat, Volume Kendaraan di Tol Cipali Melonjak 167%
Arus Balik Lebaran 2026 Meningkat 167%, Cipali Terapkan Satu Arah
Kawasan Kota Tua Jakarta Ramai 25 Ribu Pengunjung Meski Sejumlah Museum Tutup Sementara