Menurut dia, apabila kinerja dan daya saing ekspor serta FDI tidak dijaga, maka pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin merosot. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat akan sulit diraih.
Mempengaruhi Harga BBM
Sementara itu, pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rudi Purwono menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berdampak pada sektor impor dan utang luar negeri.
“Harga impor, seperti minyak naik akan memengaruhi kebijakan pemberian subsidi BBM (bahan bakar minyak). Apabila subsidi tak ditingkatkan, maka harga BBM melonjak dan memicu kenaikan biaya transportasi serta produk-produk lain yang menggunakan bahan bakar minyak,” ujar Rudi dalam keterangannya melalui situs resmi Unair, Senin, 29 April 2024.
Dampak lainnya yang akan terasa adalah utang luar negeri menjadi lebih mahal untuk dibayar. Hal itu, menurut dia, berimbas pada penekanan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta perusahaan swasta. Sedangkan di sektor keuangan, inflasi tinggi bisa mendorong kenaikan suku bunga, sehingga meningkatkan biaya modal bagi dunia usaha.
Rudi menyoroti, fenomena fluktuasi nilai mata uang rupiah terjadi melalui beberapa tahapan. Pertama, melalui impor minyak, lalu kedua, melalui biaya bahan baku lantaran banyaknya industri yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.
“Ini menyebabkan biaya produksi meningkat. Pada akhirnya, dapat menyebabkan kenaikan harga secara umum di pasar, yang dikenal dengan istilah inflasi. Dengan demikian, kenaikan nilai dolar AS dapat memengaruhi inflasi dengan menambah biaya impor bahan baku dan produksi,” kata Rudi.
Sumber: tempo
Artikel Terkait
Menhub Proyeksikan Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 18 Maret, Andalkan WFA untuk Sebaran Arus
Banjir Rendam Sejumlah Titik di Denpasar, Evakuasi Warga dan Wisatawan Berlangsung
Kurma di Bulan Ramadan: Tradisi Berbuka yang Didukung Bukti Ilmiah