Di bawah lengkungan beton Simpang Susun Semanggi yang ramai, suasana Kamis pagi itu diwarnai aksi petugas. Unit Reaksi Cepat Satpol PP Jakarta Pusat melakukan penyisiran. Mereka menghalau dan mengawasi potensi gangguan ketertiban di kawasan itu. Tujuannya jelas: menertibkan. Namun yang mereka temukan justru sebuah pemandangan yang memilukan.
Rupanya, aksi ini berawal dari laporan anggota polisi lalu lintas. Mereka melihat sejumlah orang yang tampak membutuhkan pertolongan atau dalam istilah dinas, PPKS menetap di kolong jembatan itu. Laporan itulah yang kemudian ditindaklanjuti.
Kasatpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, menjelaskan kronologinya.
"Satu tim URC kami dikerahkan ke lokasi," ujarnya, Kamis (16/4/2026). "Dan yang ditemukan adalah satu keluarga, total lima orang, tinggal di sana."
Setelah diperiksa, identitas keluarga itu pun terungkap. Ada Sumaryadi (37) dan istrinya, Tutik Heryanti (36). Mereka bersama ketiga anaknya: Putri Ananda Ramadani yang baru sepuluh tahun, Ricky Saputra Ramadan (8), dan si bungsu Andika Gilang Ardana yang masih lima tahun.
Kisahnya sungguh tak menyenangkan. Menurut penuturan Sumaryadi kepada petugas, mereka sebenarnya warga asli Kulon Progo. Dua bulan lalu, mereka datang ke Jakarta untuk sekadar berlibur. Tapi malang, di tengah keramaian ibu kota, mereka menjadi korban copet. Dompet beserta seluruh uang mereka lenyap.
Akibatnya, mereka terdampar. Tanpa uang sepeser pun untuk pulang, Sumaryadi terpaksa mencari cara bertahan. Ia memulung botol-botol plastik bekas untuk ditukarkan. Sementara untuk tempat berteduh, kolong Semanggi yang dingin dan bising jadi pilihan satu-satunya. "Sementara waktu," begitulah kata Purnama menggambarkan kondisi mereka.
Melihat keadaan itu, petugas tak tinggal diam. Keluarga tersebut akhirnya dibawa ke Dinas Sosial DKI Jakarta untuk mendapat penanganan yang lebih layak. Langkah selanjutnya sudah direncanakan.
Purnama menandaskan, Dinas Sosial akan berkoordinasi dengan pihak berwenang di Kulon Progo. Tujuannya satu: memulangkan keluarga malang ini kembali ke kampung halamannya. Sebuah akhir yang diharapkan bagi pengalaman pahit mereka di ibu kota.
Artikel Terkait
Bapanas Pantau Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan di Banten Pasca-Lebaran
Menteri ESDM: Indonesia Kejar Pasokan Minyak Mentah dari Rusia untuk Tutupi Defisit Energi
Kemenperin Antisipasi Gangguan Rantai Pasok Petrokimia Akibat Gejolak Selat Hormuz
Kementerian Kehutanan Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Riau Cegah Karhutla