Kondisi ketenagakerjaan nasional, menurut pengusaha, sedang tidak baik-baik saja. Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, menyebut situasinya seperti "lampu kuning" sebuah peringatan untuk waspada. Pernyataannya ini disampaikan dalam rapat Panja RUU Ketenagakerjaan bersama Komisi I DPR RI, Selasa lalu.
"Saat ini kondisi ketenagakerjaan kita dalam posisi lampu kuning," ujar Bob.
Alasannya sederhana tapi serius: setiap tahun, ada gelombang baru sekitar 3,5 juta orang yang mencoba masuk ke dunia kerja. Persoalannya, daya serap ekonomi kita belum mampu menampung mereka semua.
Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen, lapangan kerja yang tercipta hanya sekitar 2 juta. Angka itu sendiri masih optimis, karena sangat bergantung pada jenis investasi yang masuk. "Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi kita bisa menyerap sekitar 200 sampai 400 ribu," jelas Bob. "400 ribu kalau investornya padat karya semua. Kalau lebih banyak padat modal, mungkin hanya 200 ribu."
Hasilnya? Ada sisa sekitar 1,5 juta orang yang tak terserap pasar kerja setiap tahunnya. Ini bukan angka statistik belaka, melainkan realita yang punya konsekuensi nyata.
Dampak paling langsung terlihat pada pergeseran angkatan kerja. Mereka yang tak mendapat tempat di sektor formal akhirnya beralih ke sektor informal. Proyeksi ke depan, jumlah pekerja di sektor ini bakal makin membesar. Implikasinya beruntun: perlindungan kerja yang rendah, pengembangan kompetensi yang minim, dan kontribusi terhadap penerimaan pajak yang jauh lebih kecil dibanding pekerja formal.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp30.000 per Gram, Sentuh Rp2,89 Juta
Bapanas Peringatkan Importir Patuhi Harga Acuan Kedelai
Ghost in the Cell Joko Anwar Tayang April 2026, Usung Satir Politik di Balik Cerita Horor Penjara
DPR Dorong Proses Hukum Tegas untuk 16 Mahasiswa UI Terduga Pelecehan Seksual