Jakarta, April 2026 nanti bakal ramai dengan kehadiran film horor komedi terbaru karya Joko Anwar. Judulnya? Ghost in the Cell. Film ini bahkan sudah lebih dulu memulai debutnya di panggung internasional, tepatnya di Berlin International Film Festival atau Berlinale tahun yang sama. Jadi, bukan cuma gimmick lokal, tapi sudah dicicipi penonton festival kelas dunia.
Joko Anwar lagi-lagi tak cuma sekadar bikin penonton merinding. Lewat film ini, dia menyelipkan satir politik yang cukup pedas. Penjara fiktif dalam ceritanya digambarkan sebagai miniatur masyarakat yang sudah karatan rusak oleh sistem hukum dan birokrasi yang bobrok. Di balik tawa dan teror, ada kritik sosial yang ditawarkan.
Cerita di Balik Teror
Semua berpusat di Lapas Labuhan Angsana. Bayangkan saja: tempat itu sarat korupsi, konflik antar geng, dan atmosfer mencekam yang nyaris bisa dihirup. Keadaan makin runyam ketika Dimas, diperankan oleh Endy Arfian yang berperan sebagai mantan jurnalis, masuk ke blok tahanan. Kehadirannya ibarat memicu rentetan teror supranatural yang mengerikan.
Pembunuhan brutal terjadi. Yang bikin merinding, jasad korban ditemukan dalam posisi aneh mirip instalasi seni yang grotesk. Perlahan, rahasia kelam penjara itu terbongkar. Ternyata, tempat itu dihantui sosok gaib yang punya selera khusus: ia hanya memburu orang-orang yang dipenuhi aura negatif. Kebencian, kemarahan, keserakahan semua itu jadi umpan.
Akibatnya, situasi jadi kacau balau. Para narapidana yang awalnya saling bermusuhan, seperti Anggoro (Abimana Aryasatya) dan Bimo (Morgan Oey), terpaksa berubah taktik. Demi bertahan hidup, mereka malah berlomba-lomba berbuat baik dan berusaha menjaga hati tetap bersih. Ironis, bukan? Di penjara, justru kebaikan jadi senjata utama.
Artikel Terkait
Kemhan Tegaskan Izin Terbang Pesawat AS Masih Usulan, Belum Keputusan Final
Barcelona Gugur dari Liga Champions Meski Kalahkan Atletico Madrid
Harga Emas Antam Naik Rp30.000 per Gram, Sentuh Rp2,89 Juta
Bapanas Peringatkan Importir Patuhi Harga Acuan Kedelai