Aktivitas Pabrik China Stagnan di Ambang Kontraksi, Tertekan Lonjakan Biaya Energi Akibat Konflik Timur Tengah

- Senin, 01 Juni 2026 | 06:40 WIB
Aktivitas Pabrik China Stagnan di Ambang Kontraksi, Tertekan Lonjakan Biaya Energi Akibat Konflik Timur Tengah

Aktivitas pabrik di China mengalami stagnasi pada Mei 2026, terdampak oleh melemahnya permintaan dan lonjakan biaya energi yang dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur, yang menjadi indikator utama aktivitas industri, tercatat tepat di angka 50,0 pada bulan lalu. Angka tersebut dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) dan sejalan dengan ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg.

Capai ini menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, yakni 50,3 pada April dan 50,4 pada Maret. Dalam indeks ini, angka di atas 50,0 menandakan ekspansi, sementara skor di bawahnya mengindikasikan kontraksi. Stagnasi ini menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur terbesar kedua di dunia itu tengah berjuang menghadapi tekanan eksternal dan internal.

Salah satu faktor utama yang mendorong perlambatan adalah eskalasi perang di Timur Tengah, yang secara efektif menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital bagi perdagangan minyak dan gas global. Gangguan ini memicu kenaikan biaya energi dunia yang pada akhirnya menekan para produsen. Pabrik-pabrik di China, khususnya, harus menanggung beban biaya bahan baku yang lebih tinggi, terutama di sektor energi dan kimia.

“Baik penawaran maupun permintaan di industri termasuk minyak bumi, karet, dan plastik menunjukkan kelemahan yang berkelanjutan,” ujar Ahli Statistik NBS, Huo Lihui. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana tekanan biaya dan permintaan yang lesu telah menciptakan lingkaran setan bagi sektor manufaktur.

Sementara itu, China negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia telah lama bergulat dengan perlambatan permintaan domestik dan investasi yang membebani sektor manufakturnya. Namun, di sisi lain, terdapat secercah harapan dari sektor jasa dan konstruksi. PMI non-manufaktur China, yang mengukur aktivitas di kedua sektor tersebut, justru tumbuh menjadi 50,1 pada Mei, naik dari 49,4 pada April. Peningkatan ini menunjukkan bahwa meskipun sektor industri tengah tertekan, aktivitas di sektor lain mulai menunjukkan pemulihan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar