DPRD Jatim Panggil Marinir, Dua Siswa SMP di Gresik Tertembak Peluru Nyasar
SURABAYA – Kasus peluru nyasar yang melukai dua siswa SMP di Gresik akhirnya sampai ke meja dewan. DPRD Jawa Timur berencana memanggil pihak Marinir TNI AL. Tujuannya jelas: mencari kejelasan dan solusi buat keluarga korban yang hingga kini masih dirundung tanda tanya.
Rencana pemanggilan itu diungkapkan Ketua Komisi C DPRD Jatim, Adam Rusydi. Dia baru saja menerima aduan langsung dari keluarga korban di gedung dewan. Adam menegaskan, pertemuan dengan pihak terkait akan segera dijadwalkan. “Kami akan melakukan komunikasi kepada pihak-pihak terkait dan memediasi kira-kira solusi yang terbaik nanti seperti apa,” ujarnya.
Sebelumnya, keluarga korban memang sengaja mendatangi DPRD Jatim. Mereka ingin ada keadilan atas peristiwa yang diduga bersumber dari latihan menembak di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya. Suara mereka akhirnya sampai juga.
Dalam pertemuan itu, Dewi Murniati, ibu dari salah satu korban, DFH (14), menceritakan detail kejadian yang menimpa anaknya. Tak cuma kronologi, dia juga mengadukan proses penanganan kasus yang menurutnya berjalan lambat dan tidak transparan. Keluarga merasa dibiarkan dalam gelap.
Dewi bahkan mengungkapkan tekanan yang mereka terima selama proses ini berlangsung. Ada permintaan agar kasus ini tidak disebarluaskan ke publik. Yang lebih mengejutkan, keluarga justru diminta membuat surat permohonan maaf kepada institusi terkait. Sungguh situasi yang tak mudah bagi mereka.
Hingga detik ini, keluarga masih menunggu. Menunggu kejelasan, menunggu pertanggungjawaban. Mereka berharap DPRD Jatim bisa mengawal proses ini sampai tuntas. “Yang saya utamakan adalah upaya penyembuhan anak saya sampai tuntas,” kata Dewi dengan nada lirih namun tegas.
Di sisi lain, Marinir sudah buka suara. Komandan Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir TNI AL, Mayor Ahmad Fauzi, menyatakan prihatin. Insiden ini, kata dia, terjadi saat latihan menembak empat batalyon di Karangpilang.
“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin atas terjadinya musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita semua. Kami atas nama Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” jelas Ahmad dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Peristiwa ini sendiri terjadi pada Desember 2025 lalu. Dua siswa SMP di Gresik terluka saat berada di lingkungan sekolah. Hingga kini, penyelidikan masih terus berjalan. Masyarakat pun menanti, apa hasil mediasi yang akan dilakukan DPRD Jatim. Harapannya, tidak hanya sekadar pertemuan formal, tapi ada langkah nyata yang meringankan beban korban.
Artikel Terkait
Metode Kakeibo: Teknik Pencatatan Manual dari Jepang untuk Disiplin Menabung dan Mengurangi Belanja Impulsif
Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Sebut Ada Capaian Konkret
Lima Jenazah Satu Keluarga Korban Ledakan Bom Perang Dunia II di Biak Dimakamkan
Kapolda Riau Ajak Masyarakat Jadikan Hari Lahir Pancasila Kompas Moral Jaga Persatuan Bangsa