Viralnya video seorang balita menangis kencang di puncak Gunung Ungaran, lalu diselimuti selawat darurat, bukannya tanpa sebab. Bocah perempuan berusia satu setengah tahun itu mengalami hipotermia. Kejadian Sabtu lalu itu langsung disorot Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Menurut KPAI, ini harus jadi pelajaran berharga buat semua orang tua.
Komisioner KPAI Ai Rahmayanti dengan tegas menyatakan pendakian gunung bukan tempat yang aman untuk anak seusia itu.
"Pada usia 1,5 tahun, anak masih sangat rentan secara fisik dan belum memiliki kemampuan adaptasi terhadap kondisi ekstrem seperti suhu dingin di pegunungan. Karena itu, aktivitas seperti pendakian bukanlah ruang yang aman bagi balita,"
Begitu penjelasannya pada Selasa (14/4). Ai mengakui niat baik orang tua, tapi dia mengingatkan satu hal penting: keselamatan anak harus jadi patokan utama dalam setiap keputusan. "Anak bukan untuk aktivitas berisiko tinggi," tegasnya.
"Kami memahami bahwa orang tua memiliki niat baik, namun dalam pengasuhan, setiap keputusan harus mempertimbangkan prinsip kepentingan terbaik bagi anak, terutama dari aspek keselamatan,"
Lebih jauh, KPAI mendorong adanya aturan batas usia untuk pendaki dan edukasi yang lebih masif ke masyarakat. Mereka berharap pengelola gunung punya standar keselamatan khusus untuk anak. Intinya, peristiwa ini dianggap sebagai pengingat keras bahwa perlindungan anak dimulai dari keputusan-keputusan kecil sehari-hari.
Kronologi dan Tanggapan Petugas
Ceritanya begini. Video yang beredar luas lewat akun @kabarungaran itu menunjukkan adegan yang cukup mencemaskan. Si kecil menangis tak henti di Puncak Bondolan, sebelum akhirnya petugas sigap menyelimutinya dan berusaha menenangkannya. Tim SAR lalu menggendongnya turun.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, membenarkan kejadian ini. Menurutnya, keluarga tersebut ayah, ibu, dan anak tiba di puncak sekitar pukul dua siang. Cuaca tiba-tiba berubah. Hujan deras mengguyur, suhu pun terjun bebas. Tubuh balita berinisial L itu tidak bisa beradaptasi, hingga akhirnya menunjukkan gejala hipotermia.
"Posisi balita sudah turun dari Basecamp Perantunan, sudah dibawa pulang orang tuanya dalam kondisi selamat. Balita perempuan usia 1,5 tahun,"
Kabar baiknya, kata Bergas, balita itu sudah ditangani dan kini dalam keadaan selamat. Dia sudah dibawa pulang oleh orang tuanya. Meski begitu, kejadian ini meninggalkan tanda tanya besar tentang kesadaran akan risiko dan batasan dalam membawa anak ke alam terbuka.
Artikel Terkait
Rano Karno Dapat Izin Pakai Gedung Jasindo di Kota Tua untuk Percepat Revitalisasi
Menkeu Terbitkan Aturan Baru, Tarif Izin Akuntan Publik Asing Capai Rp10 Juta
Polisi Tetapkan Bos Hanania Group Tersangka Penipuan Umrah, Kerugian Capai Rp12,1 Miliar
Ancol Gratiskan Tiket Masuk Sore Hari Selama Perayaan HUT ke-499 Jakarta