Konflik di Timur Tengah ternyata tak cuma jadi berita di layar kaca. Gelombang efeknya sampai juga ke sini, ke proyek-proyek konstruksi di tanah air. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia atau Gapensi baru-baru ini menyuarakan keluhannya. Biaya operasional membubung, terutama gara-gara harga energi global yang ikut melonjak. Tekanan ini, menurut mereka, makin berat dirasakan kontraktor skala kecil dan menengah.
Andi Rukman Nurdin Karumpa, Ketua Umum Gapensi, bilang dampaknya sudah nyata. Harga bahan bakar industri meroket dan langsung menambah beban biaya konstruksi dalam beberapa bulan belakangan. Alhasil, margin keuntungan pengusaha makin tipis aja.
“Dari Februari sampai April 2026, kenaikan biaya konstruksi bisa mencapai 3 sampai 8 persen,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
“Dan ini berpotensi naik lagi kalau situasi global nggak membaik,” tambahnya.
Angkanya cukup konkret. Solar industri sekarang ada di kisaran Rp21.000 sampai Rp23.000 per liter. Padahal sebelumnya cuma Rp18.000–Rp20.000. Kenaikan ini seperti efek domino. Material utama kayak aspal, semen, dan baja pun ikut-ikutan naik harganya.
Nah, di tengah situasi ini, Gapensi mendesak pemerintah buat segera bertindak. Mereka minta ada penyesuaian nilai proyek atau eskalasi harga, khususnya untuk proyek yang belum masuk tahap kontrak. Soalnya, banyak proyek masih pakai acuan harga lama yang sudah nggak nyambung sama kondisi pasar sekarang.
Tanpa penyesuaian itu, risikonya besar. Kontraktor bisa-bisa menanggung kerugian yang nggak sedikit.
Artikel Terkait
Bupati Tulungagung Tiba di KPK Usai OTT, Langsung Jalani Pemeriksaan
Purbaya: Pemindahan Rp300 Triliun SAL ke Himbara untuk Paksa Tangan Tak Terlihat Pasar
Astronaut Artemis 2 Kembali ke Bumi Usai Kelilingi Bulan
Bupati Tulungagung Diperiksa Intensif KPK Usai OTT di Jawa Timur