Sebagai respons, Presiden langsung perintahkan penerapan kebijakan Larangan dan Pembatasan (Lartas). Tujuannya jelas: mengendalikan arus dan menutup celah penyimpangan. Amran juga minta BUMN terlibat dalam pengendalian distribusi agar pengawasan lebih efektif.
Strategi ketiga adalah revitalisasi besar-besaran industri gula nasional. Ini untuk memperkuat ekosistem dari ujung ke ujung secara berkelanjutan.
Dengan tiga jurus itu, Amran optimis. Swasembada gula konsumsi, katanya, bisa dicapai dalam waktu dekat.
Angkanya memang semakin mendekat. Produksi gula nasional sekarang sekitar 2,6–2,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 2,8–2,9 juta ton. Selisihnya tinggal 100-200 ribu ton lagi. Tapi, kebutuhan gula nasional secara keseluruhan jauh lebih besar, mencapai 6,7 juta ton jika ditambah gula untuk industri.
Amran mengingatkan, keberhasilan swasembada bukan cuma soal angka produksi. Tata kelola yang adil dan berpihak pada petani sama pentingnya.
Dia menutup dengan menegaskan capaian sektor pangan saat ini adalah hasil kerja keras bersama. Stok beras nasional, misalnya, disebutnya berada di level tertinggi sepanjang sejarah.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Pemotongan Gaji Pejabat Masih Wacana, Belum Diputuskan
Bank Indonesia Siap Setor Sisa Surplus Rp40 Triliun ke Pemerintah
Said Didu Klarifikasi Polemik EO Sarang Korupsi: Targetnya Oknum Pejabat, Bukan Pelaku Profesional
SKK Migas Targetkan Dua Pabrik LPG Baru Beroperasi April Ini