Nah, untuk mengatasi ini, strateginya tidak cuma satu. Selain mengalihkan pasokan dari industri ke rumah tangga, pemerintah juga memberi instruksi khusus ke kilang-kilang LPG swasta.
“Kami menginstruksikan kepada kilang LPG swasta agar memprioritaskan penawaran produksi mereka kepada PT Pertamina Patra Niaga. LPG yang sebelumnya dijual ke industri diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya LPG 3 kg,”
tambah Rizwi menjelaskan.
Langkah lainnya? Pemerintah mulai membuka keran impor dari sumber yang lebih beragam. Mereka kini mencari pasokan dari negara-negara di luar Timur Tengah. Amerika, Afrika, dan negara tetangga di Asia Tenggara jadi alternatif baru. Tujuannya sederhana: meminimalisir risiko jika terjadi gangguan di satu kawasan.
Di sisi lain, upaya penguatan dari dalam juga digenjot. Optimalisasi kilang domestik terus dilakukan. Proyek pengembangan seperti RDMP Balikpapan pun disesuaikan agar lebih mendongkrak produksi LPG lokal. Bahkan, di level hulu, Kementerian ESDM meminta para kontraktor migas untuk lebih mengutamakan kebutuhan dalam negeri sebelum mengekspor minyak dan gas mereka.
Jadi, intinya, semua lini digerakkan. Dari membatasi penjualan, mengatur ulang distribusi, hingga memburu sumber impor baru. Semua demi satu hal: memastikan gas untuk masak ibu-ibu di rumah tidak langka.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Aman dan Biaya Turun Rp2 Juta
Pemerintah Jamin Biaya Haji 2026 Tak Naik Meski Ada Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Alokasikan Rp1,77 Triliun APBN untuk Tanggung Kenaikan Biaya Haji Akibat Lonjakan Avtur
Presiden Prabowo Tegaskan Kunjungan Luar Negeri untuk Jamin Pasokan Minyak