Lantas, seperti apa prosesnya sebelum kebijakan itu akhirnya ditetapkan? Ternyata, cukup panjang. Purbaya membeberkan, timnya melakukan berbagai simulasi. Mereka menghitung dampaknya terhadap APBN jika harga minyak mentah dunia berada di level USD80, USD90, bahkan sampai USD100 per barel. Hasil kalkulasi inilah yang kemudian jadi bahan diskusi.
"Jadi waktu misalnya BBM kemarin, Presiden tanya begini, bagaimana dampaknya? (Saya jawab) Oke Pak, saya hitung dulu. Dia bilang oke kami hitung. Meeting berikutnya kita buat hitungannya. Harga USD80 per barel gimana? Segini. Harga USD90? segini. Harga USD100? segini,"
kata Purbaya menirukan dialognya dengan Presiden.
Rapat koordinasi pun berlangsung bertahap. Tujuannya satu: memastikan APBN tetap aman meski harga energi global naik. Jadi, keputusan akhir itu bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Semua sudah melalui pertimbangan matang, dengan berbagai opsi yang disodorkan ke meja Presiden.
"Jadi kebijakan (tidak menaikan BBM) kemarin itu semuanya sudah mendapat arahan. Jadi kadang-kadang kita menjalankan saja. Kadang-kadang kalau ditanya kita kasih opsi," tutupnya.
Artikel Terkait
Ketua Relawan Jokowi-Gibran Ungkap Pengakuan Rismon: Suara di Video Tuding JK Didanai Kasus Ijazah Adalah AI
Anggaran Infrastruktur Berbasis Masyarakat Ditargetkan Rp5,48 Triliun pada 2026
Polisi Ungkap Modus Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Rugikan Negara Rp1,2 Triliun
Mister Aladin Tawarkan Tiket Jakarta-Bangkok Rp 4,3 Jutaan untuk Akhir Mei 2026