“Ya terpaksa begitu. Biaya produksi lain seperti gas dan upah karyawan juga nggak turun,” keluh salah seorang produsen yang enggan disebut namanya.
Menurutnya, langkah ini lebih masuk akal ketimbang menaikkan harga jual secara langsung. Mereka khawatir konsumen akan kabur jika harga tempe di pasaran ikut naik drastis. Jadi, daripada kehilangan pelanggan, ukurannya saja yang dikurangi. Strategi bertahan yang pahit, tapi dianggap perlu.
Di sisi lain, situasi ini memunculkan kekhawatiran baru. Kalau harga bahan baku terus merangkak naik, sampai kapa n strategi “mengecilkan” produk ini bisa bertahan? Pertanyaan itu masih menggantung, sementara asap dari penggorengan tempe di Sanan terus mengepul, membawa aroma khas yang kini dibayangi masalah ekonomi yang tak sederhana.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Batas Utang 40% PDB dan Defisit 3% Sesuai Arahan Presiden
KAI Daop 1 Jakarta Peringatkan Masyarakat Soal Penipuan Rekrutmen di TikTok
Pemerintah Siapkan Pusat Finansial Khusus untuk Tarik Investasi Asing di Tengah Gejolak Global
BPKH Salurkan Rp12,92 Triliun untuk Persiapan Biaya Haji 2025