Di sisi lain, Jhonny secara khusus mengingatkan publik soal bahaya teknologi deepfake. Ini yang perlu diwaspadai betul.
"Kalau kita tidak cerdas, kita akan tertipu, ada deepfake. Seakan-akan orang ini yang ngomong," jelasnya.
Bayangkan, lanjut Jhonny, jika figur yang direkayasa itu adalah seorang tokoh berpengaruh. Namun substansi yang dibicarakan sama sekali bukan kehendak asli sang tokoh. Dampaknya bisa sangat luas dan berbahaya.
Karena itulah, dia menekankan pentingnya respons proaktif dari jajarannya sendiri. Polri dituntut untuk bisa merespons dengan cepat dan tepat setiap perkembangan teknologi, tak hanya AI, apalagi jika sudah terintegrasi dengan sistem lain.
"Keamanan ruang digital yang sehat itu menjadi sesuatu yang sangat penting sekali," tegas Jhonny.
Namun begitu, dia sadar betul bahwa ini bukan tugas Polri sendirian. Butuh kolaborasi dari semua pihak. Satu elemen saja tidak akan cukup untuk memastikan ruang siber kita benar-benar aman dan sehat.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia