JAKARTA – Awalnya terpantau di selatan Bali, Bibit Siklon Tropis 93S kini sudah bergeser. Sistem ini, yang mulai terbentuk pada 11 Desember lalu, menurut pantauan terbaru BMKG per Minggu pagi (21/12/2025) pukul tujuh, posisinya sudah berada di Samudra Hindia barat daya Jawa Barat. Kecepatan anginnya tercatat mencapai 65 km per jam. Yang menarik, meski sempat melemah, siklon ini kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan.
Miming Saepudin, selaku Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Khusus BMKG, menjelaskan perkembangan terbaru ini.
“Dalam 24 jam ke depan, intensitas Bibit Siklon Tropis 93S diprakirakan meningkat dan berpotensi berkembang menjadi siklon tropis kategori 1, dengan pergerakan menjauhi wilayah Indonesia,”
Begitu penjelasannya dalam rilis resmi yang dikeluarkan hari ini.
Namun begitu, pergerakan yang menjauh itu bukan berarti kita bisa bernapas lega. Miming dengan tegas mengingatkan bahwa dampak tidak langsungnya tetap harus diwaspadai. Sistem cuaca ini bisa mempengaruhi kondisi di tanah air, membawa hujan deras dan angin kencang.
“Masyarakat di sejumlah wilayah di Sumatra dan Jawa diimbau waspada terhadap hujan lebat, angin kencang, serta gelombang laut sedang hingga tinggi,”
Peringatannya jelas. BMKG pun sudah memetakan sejumlah wilayah perairan yang berpotensi mengalami gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter. Daerah yang dimaksud meliputi perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, lalu membentang dari perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat. Tak ketinggalan, wilayah Samudra Hindia selatan Banten hingga NTB juga masuk dalam daftar waspada.
Jadi, meski pusat siklonnya bergerak menjauh, efek riaknya masih bisa kita rasakan. Kesiapsiagaan, terutama bagi mereka yang tinggal di pesisir dan daerah rawan banjir, tetap menjadi kunci.
Artikel Terkait
Delegasi Investor Australia Kunjungi Jakarta untuk Perluas Jejak Investasi
Rafael Struick Luncurkan Kanal YouTube di Tengah Catatan Gol yang Masih Minim
AS Ajak 50 Negara Bentuk Blok Perdagangan Mineral untuk Kurangi Ketergantungan pada China
Mensesneg Minta Kepala Desa Proaktif Pantau Warga Rentan Usai Tragedi di NTT