SKK Migas Pacu 39 Sumur Potensial untuk Kejar Target Produksi Minyak

- Rabu, 04 Februari 2026 | 16:15 WIB
SKK Migas Pacu 39 Sumur Potensial untuk Kejar Target Produksi Minyak

Untuk mengejar target lifting minyak mentah sebesar 610 ribu barel per hari, SKK Migas kini sedang memaksimalkan 39 sumur potensial yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Target itu memang ambisius, tapi lembaga ini punya alasan untuk optimis.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyebut sumur-sumur tersebut menyimpan cadangan sumber daya yang melimpah. Eksplorasi ini merupakan kelanjutan dari sejumlah penemuan cadangan dalam beberapa tahun belakangan.

"Dan ada 5 kegiatan yang kami harapkan dan mohon doa dari Bapak dan Ibu semua, sumur-sumur yang ada di Sumatera, ada di lepas pantai Natuna, ada di Laut Arafura, maupun di Jawa, untuk bisa memberikan hasil positif dengan temuan-temuan yang kita nilai bisa menjadi bagian dari big fish ataupun giant discovery,"

Demikian penjelasan Rikky dalam sebuah diskusi daring, Rabu (4/1/2026).

Tak cuma itu, SKK Migas juga telah mengidentifikasi 301 struktur yang berpeluang jadi ladang minyak baru. Dari angka itu, 79 struktur sudah masuk tahap Penentuan Status Eksplorasi (PSE). Potensinya? Besar sekali: sekitar 259 juta barel minyak dan 3,9 triliun kaki kubik gas.

Di sisi lain, ada juga potensi tersembunyi dari sumur-sumur yang menganggur atau idle wells. Dari pemetaan yang dilakukan, terdapat sekitar 4.500 sumur semacam itu. Mayoritas, tepatnya 4.200 sumur, merupakan aset Pertamina. Sisanya dimiliki kontraktor swasta.

Rikky berharap momentum penemuan di cekungan Andaman dan Kutai Basin pada 2024 dan 2025 lalu bisa berlanjut. "Ini yang harapan kami, apa yang dilalui pada 2024 maupun 2025 dengan temuan di Andaman maupun di Kutai Basin, akan diikuti dari wilayah lain," ujarnya.

Upaya menggarap sumur baru dan mengoptimalkan yang lama ini memang mendesak. Kenapa? Trennya jelas: sumber daya yang ada terus menurun secara alamiah. Lapangan-lapangan tua produksinya terus merosot.

"Kami melihat bahwa penurunan alamiah produksi di lapangan-lapangan tua dengan decline hampir 3,9 persen sampai 4,5 persen harus kami tahan dengan sangat masifnya kegiatan eksplorasi di Indonesia,"

Begitu kata Rikky menekankan. Jadi, semua upaya eksplorasi ini bukan sekadar mencari yang baru, tapi juga untuk menahan laju penurunan yang tak terhindarkan itu.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar