Menyikapi hal ini, pemerintah tentu tak tinggal diam. Upaya pertama dilakukan pada 20 Maret lalu, dengan menurunkan bea masuk dan pajak impor untuk produk bahan bakar. Langkah ini diharapkan bisa meredam gejolak harga.
Namun begitu, langkah itu rupanya belum dianggap cukup. Seminggu kemudian, tepatnya 28 Maret, pemerintah mengambil kebijakan tambahan. Mereka memutuskan untuk memotong bea masuk impor kendaraan listrik (EV), kendaraan hibrida plug-in, kompor listrik, hingga perangkat bertenaga surya. Tujuannya jelas: mendorong transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya sedang tak menentu ini.
Memang, Kamboja berada dalam posisi yang rentan. Sebagai negara di Asia Tenggara, mereka sepenuhnya bergantung pada impor minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Cadangan minyak lepas pantai yang dimilikinya pun sampai saat ini belum juga dieksploitasi. Situasi global yang memanas seperti sekarang langsung terasa dampaknya di sana.
Artikel Terkait
Lurah Kalisari Minta Maaf, Petugas Gunakan Foto AI untuk Laporan Parkir Liar di JAKI
Kemenperin Genjot Ekosistem Halal Jelang Batas Akhir Sertifikasi Oktober 2026
Gubernur DKI Perintahkan Inspektorat Usut Dugaan Rekayasa AI dalam Laporan Parkir Liar
KJRI Jeddah Peringatkan WNI Soal Risiko Berat Haji Lewat Jalur Ilegal