JAKARTA – Dari balik kaca mata, Kardinal Ignatius Suharyo memandang para wartawan. Uskup Agung Jakarta itu berbicara dengan tenang, namun pesannya terasa menggelegar. Intinya satu: Gereja Katolik, di bawah Paus Leo XIV, tak akan pernah berhenti memperjuangkan perdamaian dunia.
Bagi Suharyo, komitmen ini sudah terpatri sejak awal kepemimpinan Paus. “Coba ingat momen bersejarah itu,” ujarnya, Minggu (5/4/2026). “Saat pertama kali tampil di Basilika Santo Petrus, kata-kata pembuka beliau sangat gamblang: ‘Semoga damai Tuhan menyertai seluruh dunia ini’.”
“Itu bukan sekadar basa-basi. Itu adalah pernyataan misi. Beliau ingin tegas: masa kepemimpinannya akan diabdikan untuk mengusahakan perdamaian.”
Dan caranya? Bukan dengan kekuatan senjata. Paus Leo XIV, seperti diungkapkan Suharyo, sama sekali tidak memiliki angkatan bersenjata. Jalan yang ditempuh adalah keteguhan moral, sebuah kekuatan yang justru sering dianggap lunak di panggung politik global.
Namun begitu, jangan salah sangka. Pendekatan moral ini tidak berarti lemah. Paus justru dikenal dengan pernyataan-pernyataannya yang keras dan tanpa kompromi soal perang.
“Kata-katanya sampai begitu tajam,” jelas Kardinal Suharyo.
“Beliau pernah menyatakan, doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan. Coba bayangkan, sekeras itulah.”
Artikel Terkait
Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim
Libur Paskah Dongkrak Omzet Sewa Sepeda Ontel di Kota Tua Jakarta