Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim

- Minggu, 05 April 2026 | 22:15 WIB
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim

Konflik geopolitik yang memanas dan cuaca ekstrem yang makin sering terjadi bukan cuma berita di koran. Keduanya, nyatanya, sudah jadi alarm nyaring yang memperingatkan kita: saatnya bijak menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Amanda Katili Niode, Direktur The Climate Reality Project Indonesia, menegaskan hal ini. Baginya, bijak berenergi tak boleh lagi sekadar jadi wacana.

"Setiap liter BBM yang kita bakar, berarti kita menambah emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Dampaknya nyata dan kita sudah merasakannya," ujarnya dalam sebuah keterangan tertulis, Minggu (5/4/2026).

Namun begitu, Amanda punya catatan. Bijak, menurutnya, bukan berarti membatasi dengan kaku. Ini lebih pada soal kesadaran penuh saat menggunakan energi.

"Ini bukan soal melarang orang menggunakan kendaraan, tetapi bagaimana kita menggunakan energi secara efisien dan bertanggung jawab," tegas dia.

Langkah-langkah sederhana bisa memberi dampak besar. Misalnya, mengurangi perjalanan yang sebenarnya tak perlu, nebeng dengan teman sekantor, atau memilih naik bus atau kereta. Perubahan besar, kata Amanda, seringkali lahir justru dari akumulasi aksi kecil yang dilakukan banyak orang secara konsisten.

Di sisi lain, krisis energi global yang terjadi sekarang ini seharusnya jadi titik balik. Saat harga melambung atau pasokan seret, masyarakat otomatis dipaksa untuk memikirkan ulang kebiasaan konsumsi mereka yang selama ini dianggap biasa saja.

"Ini momentum untuk berubah. Kita tidak bisa terus mengandalkan sumber energi yang terbatas dan merusak lingkungan,” ucap Amanda.

Dia juga menggarisbawahi satu hal penting. Dampak konsumsi BBM berlebih ternyata tak cuma soal lingkungan. Kualitas hidup manusia pun taruhannya.

Polusi udara makin pekat, risiko penyakit pernapasan bertambah, dan tekanan terhadap ekosistem kian berat. Dalam jangka panjang, semua ini bakal memengaruhi hal-hal mendasar: ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, bahkan stabilitas ekonomi.

"Yang sering kita lupakan, generasi mendatang akan menanggung beban terbesar dari keputusan kita hari ini. Jadi mari kita mulai bersikap bijak dalam menggunakan BBM hari ini,” pungkasnya.

(NIA DEVIYANA)

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar