Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin

- Senin, 06 April 2026 | 00:00 WIB
Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin

Rabu lalu, di kantor ITPC Santiago, Chile, sebuah kesepakatan penting ditandatangani. Cucup Ruhiyat dari PT Azaki Food International dan Bojan Urbancic dari OM SpA menyepakati kerja sama distribusi tempe senilai 2,1 miliar rupiah. Ini bukan angka kecil. Dan yang menarik, pintu gerbangnya adalah Chile, negara yang letaknya jauh di seberang lautan.

Menurut sejumlah saksi, acara itu berlangsung khidmat. Kerja sama ini, nyatanya, adalah buah dari pameran Espacio Food & Service akhir September lalu. ITPC Santiago-lah yang kemudian memfasilitasi pertemuan bisnis kedua perusahaan hingga akhirnya deal. Jadi, ini bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam.

Fajarini Puntodewi, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, menyambut baik langkah ini.

“Kerja sama ekspor tempe ke Chile ini sekaligus akan mencontohkan optimalisasi pemanfaatan Indonesia–Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) dalam mendorong peningkatan ekspor dan memperkuat promosi dagang Indonesia,” jelasnya lewat keterangan tertulis.

“Kementerian Perdagangan akan terus mendukung agar lebih banyak lagi pelaku usaha Indonesia berkembang di pasar global,” tambahnya.

Lantas, bagaimana strateginya? Kepala ITPC Santiago, Indah Fajarwati Bachter, membeberkan rencana bertahap. Awalnya, fokus akan ditujukan untuk menguasai pasar Chile dulu sebagai titik masuk. Mereka akan memperkuat distribusi, meningkatkan visibilitas produk, dan membangun jaringan.

“Selanjutnya untuk jangka menengah, kerja sama ini berpotensi untuk diperluas ke negara-negara Amerika Latin lainnya,” ujar Indah.

“Kami harap, kerja sama ini membuka pintu yang dapat memperkenalkan tempe sebagai produk pangan berbasis nabati unggulan di pasar Amerika Latin.”

Peran OM SpA sebagai distributor pun cukup komprehensif. Mereka akan mengurusi mulai dari manajemen merek, promosi, urusan regulasi impor, sampai pengembangan jaringan di tingkat lokal. Bisa dibilang, mitra Chile ini akan menjadi ujung tombak Azaki di sana.

Di sisi lain, profil Azaki sendiri cukup mumpuni. Berdiri sejak 2019, perusahaan ini bukan pemain baru. Mereka punya produk beragam, dari tempe segar, beku, keripik, sampai siap saji. Sertifikasi keamanan pangan sudah di tangan. Pengalaman ekspor ke Australia, Jepang, hingga Amerika Serikat juga sudah ada. Jadi, langkah ke Chile adalah bagian dari ekspansi yang terencana.

Bagaimana dengan mitranya? OM SpA, atau OM Fermentos, rupanya punya visi yang sejalan. Perusahaan Chile ini bergerak di bidang pangan fermentasi fungsional. Mereka peduli pada kesehatan dan keberlanjutan. Bahkan, mereka aktif mengedukasi soal fermentasi. Jadi, kerja sama ini bukan sekadar jual-beli, tapi lebih pada kolaborasi ide.

Miftah Farid, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, melihat peluang besar di balik ini.

“Kami mengajak pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki peluang ekspor ke Chile dengan cara menghubungi ITPC Santiago,” ajaknya.

Dubes RI untuk Chile, Vedi Kurnia Buana, punya pandangan lebih luas. Baginya, ini adalah wujud nyata diplomasi ekonomi.

“Kerja sama ini menunjukkan semakin kuatnya sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mendorong ekspor produk Indonesia ke pasar non-tradisional,” kata Vedi.

“Chile memiliki posisi strategis sebagai hub untuk menjangkau pasar Amerika Latin sehingga inisiatif seperti ini perlu terus didorong dan diperluas.”

Peluangnya memang terbuka lebar. Data dari otoritas Chile menunjukkan, negara itu mengimpor produk pangan senilai lebih dari 8 miliar dolar AS per tahun. Tren makanan sehat dan plant-based sedang naik daun. Kesadaran akan gaya hidup sehat dan kebutuhan protein alternatif mendorong pasar. Di sinilah tempe, dengan segala keunggulannya, bisa bersinar.

Secara angka, hubungan dagang kita dengan Chile sudah cukup baik. Tahun lalu, total perdagangan mencapai 535,5 juta dolar AS, dengan surplus untuk Indonesia sebesar 347,5 juta dolar AS. Kerja sama tempe ini bisa menjadi batu pijakan untuk mendongkrak angka itu lebih tinggi lagi.

Jadi, dari sebuah penandatanganan di Santiago, harapannya adalah gelombang ekspor baru. Bukan hanya untuk tempe, tapi untuk berbagai produk lokal Indonesia lainnya. Perjalanan panjang, tapi langkah awalnya sudah diambil.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar