Pernyataan keras itu bukan tanpa alasan. Menurut Suharyo, peperangan di era sekarang ini sudah kelewat batas. Bukan cuma memilukan, tapi juga melanggar banyak aturan main internasional yang sudah disepakati bersama, termasuk deklarasi PBB. Lalu apa hasilnya? Tak ada yang baik. Sama sekali.
“Buahnya apa? Nyatanya, tidak ada buahnya,” tegasnya.
“Yang ada hanyalah akibat buruk yang merusak segalanya bumi, peradaban, dan tentu saja, kemanusiaan itu sendiri. Inilah posisi Gereja Katolik yang ditegaskan kembali oleh Paus Leo ke-14.”
Di sisi lain, Suharyo tak hanya mengkritik. Dia pun mengajak. Ajakan itu sederhana: berdoa. Umat Katolik diajak untuk terus mendoakan perdamaian dunia, mengikuti pesan sang Pemimpin Tertinggi.
Dunia mungkin tampak gelap, dipimpin oleh orang-orang yang “gelap mata”, seperti disinggungnya. Tapi di tengah kegelapan itu, harapan tak pernah benar-benar padam.
“Saya yakin,” tutur Suharyo dengan nada lebih rendah, “selalu ada cahaya. Meski hanya secercah sinar lilin kecil, ia tetap bisa menerangi jalan kemanusiaan.”
Pesan itu, sederhana namun mendalam, ia titipkan sebagai bekal di tengah situasi dunia yang carut-marut.
Artikel Terkait
Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim
Libur Paskah Dongkrak Omzet Sewa Sepeda Ontel di Kota Tua Jakarta