Pada akhirnya, semua kembali ke angka. Dalam investasi infrastruktur, pertimbangan utamanya tetap keekonomian proyek. Selama kebijakan pemerintah dirasa mendukung dan proyeksi imbal hasilnya menarik, minat investasi diyakini tak akan padam.
“Investor itu pada dasarnya melihat return. Kalau policy-nya pas, kemudian mereka hitung return-nya oke, harusnya mereka ikut,” tegas Willan.
Menyikapi hal ini, pemerintah pun tak tinggal diam. Upaya untuk meningkatkan kualitas penyiapan proyek terus didorong. Caranya dengan menyusun studi kelayakan dan kriteria kesiapan yang lebih kredibel. BPJT bersama DJPI dan Bappenas berusaha melibatkan lembaga atau konsultan bereputasi dalam proses tersebut.
Harapannya jelas: membangun kepercayaan. Terutama untuk menarik investor dari luar negeri.
“Kalau studi dilakukan oleh konsultan yang kredibel, misalnya terkait proyeksi trafik dan skema tarif, investor akan lebih yakin. Mereka bisa melihat dengan jelas dalam berapa tahun investasi itu bisa kembali,” paparnya.
Dengan langkah perbaikan ini, optimisme tetap ada. Pemerintah berharap daya tarik proyek infrastruktur Indonesia tak hanya memikat investor domestik, tapi juga mampu menjangkau pasar global.
Artikel Terkait
Daniel Muttaqien Syaifuddin Resmi Pimpin DPD Golkar Jabar Periode 2025-2030
Pertamina Pacu EBT, Capai 8.743 GWh Energi Bersih Hingga 2025
Inflasi Pangan Maret 2026 Turun, Pemerintah Klaim Berhasil Patahkan Tren Deflasi Pascalebaran
Ribuan Umat Padati Gereja Katedral Jakarta untuk Ibadah Jumat Agung