Layanan internet di Iran mendadak lumpuh total pada Kamis (8/1). Laporan ini pertama kali dikonfirmasi oleh NetBlocks, kelompok pemantau konektivitas global. Padamnya jaringan digital ini terjadi di tengah situasi yang sudah memanas, ketika gelombang demonstrasi akibat tekanan ekonomi terus menggulung negara itu.
Sampai sekarang, belum ada penjelasan resmi apa pun dari pemerintah soal penyebab blackout ini. Yang jelas, situasi di lapangan justru makin tegang.
Menurut sejumlah saksi yang dihubungi, unjuk rasa justru kembali pecah di hari yang sama. Aksi-aksi itu terdengar bergemuruh di Teheran, juga di kota-kota besar lain seperti Mashhad dan Isfahan. Suara para demonstran keras, menentang kekuasaan rezim ulama yang telah memimpin Iran selama puluhan tahun.
Di sisi lain, dari jauh, mantan putra mahkota Reza Pahlavi yang kini hidup di pengasingan di AS ikut bersuara. Ia mendesak agar protes diperluas jangkauannya. Rezim keluarganya sendiri tumbang pada 1979 lewat revolusi besar.
Menariknya, di media sosial beredar klaim meski belum bisa dipastikan kebenarannya bahwa slogan-slogan pendukung dinasti Pahlavi mulai diteriakkan di antara kerumunan massa.
Tapi cerita dari pemerintah sama sekali berbeda. Lewat kantor berita resminya, otoritas Iran membantah keras ada demonstrasi besar. Mereka menyebut situasi sudah kondusif dan tenang.
Gelombang kemarahan rakyat ini sebenarnya sudah mengalir sejak Desember 2025. Semuanya berawal dari Grand Bazaar Teheran, pusat perdagangan bersejarah sekaligus denyut nadi ekonomi Iran. Para pedagang di sana geram melihat nilai mata uang rial terjun bebas.
Kemarahan itu lalu merambat cepat ke berbagai penjuru. Inflasi yang meroket, dipicu sanksi Barat dan berbagai pembatasan, jadi bahan bakar yang sempurna.
Presiden Masoud Pezeshkian berusaha meredam situasi. Ia meminta para pemasok barang untuk tidak menimbun atau semena-mena menaikkan harga.
“Masyarakat tidak boleh merasa kekurangan dalam hal pasokan dan distribusi barang,” tegas Pezeshkian.
Ia berjanji pemerintah akan mengawasi ketersediaan barang dan menjaga stabilitas harga.
Sementara itu, dari seberang lautan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut memberi pernyataan keras. Dia menyatakan siap mengambil tindakan tegas jika aparat keamanan Iran sampai menembaki para demonstran. Ancaman itu menggantung, memperkeruh suasana yang sudah ruwet ini.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat di Bali, Tegaskan Komitmen Pemerataan Akses Pendidikan
Kuasa Hukum: Video Maaf Sarwendah Tak Ada Kaitannya dengan Ruben Onsu
Pemkot Makassar Resmi Terima Hibah Lahan 8.188 M² dari PIP untuk Pengembangan Stadion Untia
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,738 Juta per Gram, Buyback Tak Bergerak