Gelombang kemarahan rakyat ini sebenarnya sudah mengalir sejak Desember 2025. Semuanya berawal dari Grand Bazaar Teheran, pusat perdagangan bersejarah sekaligus denyut nadi ekonomi Iran. Para pedagang di sana geram melihat nilai mata uang rial terjun bebas.
Kemarahan itu lalu merambat cepat ke berbagai penjuru. Inflasi yang meroket, dipicu sanksi Barat dan berbagai pembatasan, jadi bahan bakar yang sempurna.
Presiden Masoud Pezeshkian berusaha meredam situasi. Ia meminta para pemasok barang untuk tidak menimbun atau semena-mena menaikkan harga.
“Masyarakat tidak boleh merasa kekurangan dalam hal pasokan dan distribusi barang,” tegas Pezeshkian.
Ia berjanji pemerintah akan mengawasi ketersediaan barang dan menjaga stabilitas harga.
Sementara itu, dari seberang lautan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut memberi pernyataan keras. Dia menyatakan siap mengambil tindakan tegas jika aparat keamanan Iran sampai menembaki para demonstran. Ancaman itu menggantung, memperkeruh suasana yang sudah ruwet ini.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun