Gelombang kemarahan rakyat ini sebenarnya sudah mengalir sejak Desember 2025. Semuanya berawal dari Grand Bazaar Teheran, pusat perdagangan bersejarah sekaligus denyut nadi ekonomi Iran. Para pedagang di sana geram melihat nilai mata uang rial terjun bebas.
Kemarahan itu lalu merambat cepat ke berbagai penjuru. Inflasi yang meroket, dipicu sanksi Barat dan berbagai pembatasan, jadi bahan bakar yang sempurna.
Presiden Masoud Pezeshkian berusaha meredam situasi. Ia meminta para pemasok barang untuk tidak menimbun atau semena-mena menaikkan harga.
“Masyarakat tidak boleh merasa kekurangan dalam hal pasokan dan distribusi barang,” tegas Pezeshkian.
Ia berjanji pemerintah akan mengawasi ketersediaan barang dan menjaga stabilitas harga.
Sementara itu, dari seberang lautan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut memberi pernyataan keras. Dia menyatakan siap mengambil tindakan tegas jika aparat keamanan Iran sampai menembaki para demonstran. Ancaman itu menggantung, memperkeruh suasana yang sudah ruwet ini.
Artikel Terkait
Ratusan Ton Bawang Ilegal Berbakteri Digagalkan di Gudang Semarang
Jemaah Haji Khusus Dapat Bonus Rp10 Jutaan dari Pengelolaan Dana Awal
Papa Zola The Movie: Tiga Tahun dan Rp80 Miliar untuk Sebuah Spin-off
Bus Rute Lampung-Bekasi Hangus Terbakar di Jalan Diponegoro, Seluruh Penumpang Selamat