Stadion Beach City International di Ancol, Jakarta Utara, ramai sejak siang. Suasana itu makin panas ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akhirnya tiba. Tepatnya pukul 14.05 WIB, Sabtu (10/1/2026), ia memasuki arena perayaan HUT ke-53 dan Rakernas I partainya.
Megawati tampil dengan kemeja merah khas partai. Yang menarik, ia tak sendirian. Di sampingnya, putranya, Prananda Prabowo yang juga Ketua DPP PDIP, setia mendampingi. Rombongan itu juga diisi oleh sejumlah wajah familiar: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto terlihat berjalan bersama.
Kedatangannya langsung disambut riuh. Para kader dan satgas partai yang sudah menunggu di lobi Selatan stadium bersorak-sorai. Megawati pun membalas dengan senyum khasnya, tangannya melambai ramah ke arah puluhan awak media yang berjejal merekam momen itu.
Acara besar ini, menurut Hasto Kristiyanto, bukan cuma seremoni belaka. Sehari sebelumnya, Jumat (9/1/2026), ia menegaskan Rakernas ini adalah bentuk konsolidasi nyata.
"PDI Perjuangan menegaskan diri sebagai Partai Penyeimbang dengan kerja nyata di tengah rakyat di tengah berbagai bencana yang melanda di Tanah Air, dengan spirit kemanusian, keadilan dan keberpihakan kepada rakyat,"
Hasto lalu menyebut sejumlah aksi tanggap bencana yang digerakkan Baguna PDIP di Aceh, Sumut, Sumbar, Sulut, Jabar, dan daerah lainnya. Itulah, katanya, wujud nyata perjuangan partai.
Nah, untuk Rakernas kali ini, PDIP mengusung tema "Satyam Eva Jayate". Itu adalah frasa bahasa Sanskerta yang artinya "Kebenaran akan Menang". Subtemanya lebih puitis: "Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya".
Hasto punya penjelasan khusus tentang tema ini, terutama untuk kaum muda.
"Bagi para pemuda, Satyam Eva Jayate bukan sekedar slogan, namun pesan moral dalam dunia digital untuk berani berbicara kritis sebagai cermin kebebasan berpendapat yang dilindungi Konstitusi serta berani menempuh jalan 'anti mainstream' di dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan,"
Jadi, acara ini lebih dari sekadar pesta ulang tahun. Di balik sorak-sorai penyambutan dan senyum Megawati, ada pesan politik yang hendak disampaikan. Sebuah penegasan posisi, di tengah hiruk-pikuk peta politik nasional.
Artikel Terkait
Gempa M5,1 Guncang Sarmi, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
PMI Manufaktur Indonesia Netral di 50,0 pada Mei, Produksi Masih Tertekan Harga Bahan Baku dan Konflik Global
Imam Besar Masjid Al Aqsa Kecam Rencana Israel Larang Azan di Yerusalem Timur
BGN Percepat Validasi Data Penerima Makan Bergizi Gratis Libatkan Kementerian hingga Perangkat Desa