Geliat industri animasi Asia Tenggara kembali terasa. Kali ini, dari Malaysia, muncul film animasi yang cukup dinanti-nanti: Papa Zola The Movie. Kabarnya, film ini bakal tayang di Indonesia pada Januari 2026. Bagi penggemar semesta BoBoiBoy, ini jelas kabar gembira. Soalnya, film ini adalah spin-off yang mengangkat karakter ikonik Papa Zola ke dalam cerita yang lebih luas dan mendalam.
Namun begitu, jalan menuju layar lebar ternyata tidak mudah. Di balik jadwal tayang yang sudah di depan mata, proses produksinya ternyata memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Nizam Abdul Razak, sang sutradara sekaligus penulis skenario, membuka-bukaan soal perjalanan kreatif film ini.
Ia mengungkapkan, total proyek ini menghabiskan waktu hingga tiga tahun.
"Production total dua tahun. Dua tahun tapi total project-nya tiga tahun. Satu, kita setahun pre-production, ceritanya, skripnya, then kita masuk production dua tahun. So total 3 years," ujar Nizam dalam sebuah kesempatan di Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat lalu.
Menurutnya, tahap praproduksi yang memakan waktu setahun itu adalah fondasi yang krusial. Semuanya digarap matang, mulai dari pengembangan cerita, penulisan skrip, sampai konsep visual. Tujuannya jelas: agar karakter Papa Zola bisa tampil lebih kuat dan relevan buat penonton dari berbagai usia. Baru setelah itu, tim terjun ke fase produksi selama dua tahun penuh.
Soal biaya? Angkanya fantastis. Untuk ukuran produksi animasi regional, Nizam menyebut total anggaran yang dikeluarkan mencapai 5 juta dolar AS, atau setara dengan lebih dari Rp80 miliar.
"5 juta US dollar end-to-end. Artinya, itu bukan hanya biaya produksi, tetapi juga termasuk biaya pemasaran," sambungnya.
Anggaran sebesar itu tentu bukan tanpa alasan. Ini mencerminkan ambisi tim untuk menghadirkan kualitas terbaik, baik dari segi visual, narasi, hingga strategi peluncurannya. Nizam juga menyinggung soal tantangan membangun Intellectual Property (IP) baru. Biayanya, kata dia, memang cenderung lebih besar ketimbang menggarap IP yang sudah punya nama.
"Biasanya untuk memulai IP baru, biayanya memang lebih besar dibandingkan IP-IP yang sudah ada sebelumnya," jelas Nizam.
Meski lahir dari dunia BoBoiBoy yang sudah punya basis penggemar kuat, film ini berusaha berdiri sendiri. Pengembangan karakter dan alur cerita dilakukan dengan sangat hati-hati. Tujuannya, agar bisa menarik penonton baru tanpa mengabaikan para penggemar lama.
Yang menarik, kolaborasi regional juga jadi bagian dari proyek ambisius ini. Tim produksi turut melibatkan studio animasi lokal dari Indonesia, menunjukkan sinergi yang kian erat di kawasan.
"Kami juga bekerja sama dengan beberapa studio lokal di Indonesia yang sebelumnya pernah terlibat dalam proyek-proyek kami, dan mereka juga ikut terlibat dalam Papa Zola The Movie," kata Cynthia, Production Director film tersebut.
Upaya keras itu rupanya membuahkan hasil yang manis. Di Malaysia, film ini sukses besar. Jumlah penontonnya menembus lebih dari 3,5 juta orang, dengan pendapatan kotor yang mencapai 200 juta ringgit Malaysia atau sekitar Rp206 miliar. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.
Sekarang, tinggal menunggu respons penonton Indonesia. Papa Zola The Movie dijadwalkan mulai tayang di sini pada 23 Januari 2026. Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Davide Ancelotti Resmi Ditunjuk sebagai Pelatih Kepala Lille untuk Musim 2026/2027
AS Monaco Resmi Aktifkan Opsi Pembelian Ansu Fati dari Barcelona Senilai 11 Juta Euro
James Milner Pensiun di Usia 40 Tahun, Tutup Karier 24 Musim dengan Rekor 658 Laga di Premier League
Kemenag Sembelih 12 Sapi dan 6 Kambing, Salurkan 1.200 Paket Daging Kurban serta Santunan Anak Yatim