Akhirnya, kabar yang ditunggu banyak orang itu datang juga. Pada Jumat lalu, KPK resmi menetapkan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, sebagai tersangka. Pemicunya? Dugaan korupsi yang menjerat pengaturan kuota haji tahun ini. Langkah ini tentu saja langsung menyulut berbagai reaksi.
Buat saya pribadi, berita ini bercampur aduk. Ada rasa sedih, tapi juga ada semacam kepuasan. Sedih, karena jujur saja, saya tidak ingin melihat Gus Yaqut mendekam di penjara. Harapan terbesar saya sebenarnya adalah dia bisa menyadari kesalahannya dan bertobat tanpa harus melalui proses yang memalukan itu. Tapi di sisi lain, penetapan KPK ini seperti sebuah konfirmasi. Setidaknya, lembaga antirasuah itu melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan cara Yaqut bertindak.
Harus diakui, dia punya masalah serius dalam mengelola haji 2024. Ada yang bilang, dia tak bisa menahan nafsu terhadap harta. Kesalahan ini, semoga saja, membuka mata para pendukungnya yang selama ini membela mati-matian kadang dengan cara yang justru menzalimi orang lain.
Memang, status tersangka ini belum final. Masih ada proses pengadilan panjang yang akan menentukan bersalah atau tidaknya. Tapi coba lihat saja gema di media sosial. Banyak warganet yang seperti lega, bersyukur KPK bergerak. Suara-suara itu tak bisa diabaikan begitu saja.
Saya mengikuti kasus ini dengan perhatian khusus. Alasannya personal. Tahun 2022 silam, anak buah Yaqut di Depok pernah ‘mengadili’ saya. Waktu itu, perwakilan NU Depok, Banser, GP Ansor, dan lainnya memanggil saya ke Gedung MUI. Mereka mengancam akan melaporkan saya ke polisi hanya karena sebuah artikel berjudul “Istighfarlah Yaqut”. Pengalaman itu tak mungkin saya lupakan.
Selain soal korupsi, ada hal lain yang mengganjal dari sosok Yaqut. Saya ingin menyoroti pernyataannya saat masih menjabat. Dia kerap mengatakan dirinya adalah menteri untuk semua agama, bukan hanya Islam. Bagi saya, pernyataan itu menunjukkan keteguhan yang goyah terhadap keyakinannya sendiri.
Seharusnya, sebagai Menag, dia menunjukkan keagungan Islam. Mendorong dakwah, bukan sekadar menjadi administrator yang netral. Lihatlah contoh dari para pendahulunya, seperti Prof. Rasjidi atau Wahid Hasyim. Mereka teguh membela Islam tanpa ragu. Itu yang mestinya diteladani.
Lalu, ada pernyataannya yang lain. Yaqut pernah bilang bahwa pejuang kemerdekaan bukan cuma orang Islam, tapi juga penganut agama lain. Itu benar, memang. Tapi jangan lupa, lebih dari 90 persen pahlawan kita adalah Muslim. Penjajah kita dulu, Belanda dan Jepang, jelas bukan beragama Islam. Konteks sejarah itu penting.
Gus Yaqut, nilai-nilai Islam harus kita pegang erat di mana pun kita berdiri. Kalau lupa, ya terpelesetlah. Nafsu duniawi itu licin dan bisa menghancurkan reputasi dalam sekejap.
Artikel Terkait
Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa
Isu Kabur dan Aset Miliaran: Mengapa Narasi Pelarian Khamenei Tak Menyentuh Realitas?
KPK Gelar OTT di Kantor Pajak Jakarta Utara, Dugaan Manipulasi Pengurangan Pajak
Poligami Dihukum Lebih Berat, Kohabitasi Diringankan: Paradoks KUHP Baru