Surat Terbuka untuk Gus Yaqut: Saatnya Kembali ke Jalan Islam

- Jumat, 09 Januari 2026 | 22:25 WIB
Surat Terbuka untuk Gus Yaqut: Saatnya Kembali ke Jalan Islam

Akhirnya, kabar yang ditunggu banyak orang itu datang juga. Pada Jumat lalu, KPK resmi menetapkan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, sebagai tersangka. Pemicunya? Dugaan korupsi yang menjerat pengaturan kuota haji tahun ini. Langkah ini tentu saja langsung menyulut berbagai reaksi.

Buat saya pribadi, berita ini bercampur aduk. Ada rasa sedih, tapi juga ada semacam kepuasan. Sedih, karena jujur saja, saya tidak ingin melihat Gus Yaqut mendekam di penjara. Harapan terbesar saya sebenarnya adalah dia bisa menyadari kesalahannya dan bertobat tanpa harus melalui proses yang memalukan itu. Tapi di sisi lain, penetapan KPK ini seperti sebuah konfirmasi. Setidaknya, lembaga antirasuah itu melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan cara Yaqut bertindak.

Harus diakui, dia punya masalah serius dalam mengelola haji 2024. Ada yang bilang, dia tak bisa menahan nafsu terhadap harta. Kesalahan ini, semoga saja, membuka mata para pendukungnya yang selama ini membela mati-matian kadang dengan cara yang justru menzalimi orang lain.

Memang, status tersangka ini belum final. Masih ada proses pengadilan panjang yang akan menentukan bersalah atau tidaknya. Tapi coba lihat saja gema di media sosial. Banyak warganet yang seperti lega, bersyukur KPK bergerak. Suara-suara itu tak bisa diabaikan begitu saja.

Saya mengikuti kasus ini dengan perhatian khusus. Alasannya personal. Tahun 2022 silam, anak buah Yaqut di Depok pernah ‘mengadili’ saya. Waktu itu, perwakilan NU Depok, Banser, GP Ansor, dan lainnya memanggil saya ke Gedung MUI. Mereka mengancam akan melaporkan saya ke polisi hanya karena sebuah artikel berjudul “Istighfarlah Yaqut”. Pengalaman itu tak mungkin saya lupakan.

Selain soal korupsi, ada hal lain yang mengganjal dari sosok Yaqut. Saya ingin menyoroti pernyataannya saat masih menjabat. Dia kerap mengatakan dirinya adalah menteri untuk semua agama, bukan hanya Islam. Bagi saya, pernyataan itu menunjukkan keteguhan yang goyah terhadap keyakinannya sendiri.

Seharusnya, sebagai Menag, dia menunjukkan keagungan Islam. Mendorong dakwah, bukan sekadar menjadi administrator yang netral. Lihatlah contoh dari para pendahulunya, seperti Prof. Rasjidi atau Wahid Hasyim. Mereka teguh membela Islam tanpa ragu. Itu yang mestinya diteladani.

Lalu, ada pernyataannya yang lain. Yaqut pernah bilang bahwa pejuang kemerdekaan bukan cuma orang Islam, tapi juga penganut agama lain. Itu benar, memang. Tapi jangan lupa, lebih dari 90 persen pahlawan kita adalah Muslim. Penjajah kita dulu, Belanda dan Jepang, jelas bukan beragama Islam. Konteks sejarah itu penting.

Gus Yaqut, nilai-nilai Islam harus kita pegang erat di mana pun kita berdiri. Kalau lupa, ya terpelesetlah. Nafsu duniawi itu licin dan bisa menghancurkan reputasi dalam sekejap.

Jadi pejabat di negeri ini memang ujian berat. Godaan korupsi, harta, dan segala macam kemewahan lainnya bertebaran. Banyak yang jatuh karena tak kuasa menahan diri. Lalu, apa bentengnya? Hanya keimanan. Iman kepada Allah dan hari akhir yang akan mengingatkan kita untuk takut berbuat zalim. Saat tangan ingin mengambil yang bukan haknya, rasa takut itulah yang menghentikan. Takut dihisab nanti. Harta haram yang menumpuk, dari mana asalnya? Pertanyaan itu yang harus selalu menggema.

Hidup ini cuma sementara, Gus. Dulu, orang tua dan guru-guru kita mengajarkan bahwa Islam adalah agama wahyu satu-satunya yang benar. Agama lain adalah produk budaya. Itu keyakinan kita.

Pegang teguh keyakinan itu, tapi ingat, kita juga diharamkan menzalimi pemeluk agama lain. Toleransi itu wajib. Tapi dalam hati, kita harus berusaha minimal berdoa agar mereka suatu saat mendapat hidayah. Seperti firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 85, “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Dengan berpegang pada Al-Qur’an, insya Allah kita selamat. Kita jadi takut melanggar larangan-Nya, terutama dosa-dosa besar: mencuri, korupsi, berzina, membunuh, menyekutukan Allah. Tanpa pegangan itu, kita akan terjebak dalam relativisme. Menganggap semua agama sama, semua nilai benar. Akhirnya, kita kehilangan pijakan. Dunia dilihat sebagai arena pemuas nafsu belaka. Menumpuk harta, lalu terjerumus ke dalam lubang yang lebih dalam.

Maka, sekaranglah waktunya, Gus Yaqut, untuk kembali memegang teguh Islam. Bangga jadi pembelanya. Bangga jadi da’inya. Bangga jadi pejuangnya.

Kalau memang ada salah, segeralah bertobat. Perbanyak istighfar, perbaiki diri. Allah Maha Pengampun. Dia pasti mengampuni hamba-Nya yang sungguh-sungguh kembali.

Surat singkat ini, semoga sampai ke tangan Gus Yaqut atau para pendukungnya. Semoga kita semua dikumpulkan Allah dalam barisan pembela Islam, dan dipertemukan di surga-Nya bersama Nabi Muhammad. Amiin.

Depok, 9 Januari 2026

Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar