Wamenparekraf: Konsep Bioskop Negara Sinewara Masih Digodok

- Rabu, 25 Februari 2026 | 05:00 WIB
Wamenparekraf: Konsep Bioskop Negara Sinewara Masih Digodok

Di kawasan SCBD Jakarta, Kamis petang lalu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar sempat diwawancarai awak media. Topiknya satu: proyek bioskop negara yang digagas PT PFN, Sinewara. Menurut Irene, konsep itu masih dalam proses pematangan.

"Terakhir mungkin kalau itu sekarang lagi kita godok bersama," ujarnya.

Ia enggan bertele-tele. Intinya, pembahasan masih berjalan. Pematangan ini dinilai perlu, terutama karena ada masalah klasik di industri film tanah air: jumlah layar yang terbatas. Nah, Sinewara diharap bisa jadi solusi untuk menambah layar itu. "Karena kan salah satu problem di sinema adalah layar yang terbatas kan. Jadi itu kami lagi godok terus supaya tambah layar," tambah Irene.

Lalu di mana lokasi pastinya? Soal ini, Irene memilih untuk tidak membocorkannya. Ia bilang, biar jadi kejutan saja buat masyarakat. "Ada aja, surprise pokoknya," tuturnya singkat.

Padahal, sebelumnya ide Sinewara ini sudah sempat mencuat. Arief Fajarsyah, atau yang akrab disapa Ifan Seventeen selaku Dirut PFN, sudah mengungkapkannya dalam rapat di DPR awal Februari lalu. Saat itu, Ifan menyebut lokasi yang dipilih adalah lahan milik PFN di Jalan Otista, Jakarta Timur.

"Road map daripada PFN ke depan insyaallah PFN akan mendirikan bioskop negara pertama yang bernama Sinewara yang berlokasi di Otista itu di PFN," kata Ifan waktu itu.

Latar belakangnya jelas: kondisi layar bioskop di Indonesia yang memprihatinkan. Ifan memaparkan data yang cukup mencengangkan. Saat ini, total layar di seluruh negeri hanya sekitar 2.400. Angka itu jauh dari ideal. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia seharusnya punya sekitar 20.000 layar. Target realistisnya pun setengah dari angka itu, yakni 10.000 layar.

"Dari data yang kami punya sekarang di negara kita tersedia hanya sekitar 2.400 layar. Idealnya jika dibandingkan dari India, China maupun USA, harusnya Indonesia itu mempunyai 20.000 layar. Yang menjadi target setengahnya let's say 10.000 layar," jelasnya.

Persoalannya tak cuma jumlah. Penyebarannya pun timpang. Ifan menyebut, hanya 25-30 persen kabupaten dan kota di Indonesia yang memiliki bioskop. Sebagian besar wilayah justru tak tersentuh. "Jadi memang penyebarannya sangat tidak rata," tuturnya.

Maka, Sinewara diharapkan bisa jadi pilot project. Proyek percontohan bioskop milik negara ini diharap bisa memicu daerah-daerah lain untuk ikut mengembangkan bisnis serupa. Jika berhasil, bukan mustahil akan ada lebih banyak layar di berbagai penjuru.

"Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama. Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini dengan cara bergabung menjadi salah satu shareholder," beber Ifan.

Di sisi lain, Ifan juga menyoroti soal ketahanan film lokal di bioskop. Saat ini, film Indonesia umumnya hanya tayang setiap hari Kamis. Daya tahannya pun sangat bergantung pada okupansi penonton. Ini jadi polemik yang tak kunjung usai.

Karena itu, ia mendorong adanya kajian lebih mendalam. Misalnya, menambah hari tayang khusus untuk film lokal dan mengkaji ulang sistem ketahanan film di layar bioskop. "Tapi kami ingin mengusulkan kajian yang lebih mendalam bagaimana jika diadakan hari penambahan untuk tayangnya film lokal," pungkasnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar