Usulan NasDem untuk menaikkan ambang batas parlemen jadi 7% tak mendapat restu dari Partai Buruh. Malah, partai yang satu ini punya gagasan yang berseberangan total: hapus saja batas itu sama sekali.
Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyatakan sikap partainya sejalan dengan PAN. Mereka mengusulkan parliamentary threshold nol persen. Menurut Said, langkah ini justru bakal bikin demokrasi kita lebih berkualitas.
"Pandangan Partai Buruh terhadap parliamentary threshold atau ambang batas parlemen adalah setuju dengan pendapat PAN, yaitu 0%," kata Said saat dihubungi, Rabu (24/2/2026).
Dia punya sejumlah alasan. Pertama, soal presidential threshold yang sudah nol persen. "Presidential threshold saja, pemilihan calon presiden sudah 0%," ujarnya.
Kalau ambang batas parlemen dihapus, tak ada lagi suara rakyat yang terbuang percuma. "Maka, demi demokrasi yang lebih berkualitas dan menghindarkan suara rakyat yang terbuang karena ada ambang batas parlemen, wajar kalau parliamentary threshold juga 0%," tambah Said.
Alasan kedua berkaitan dengan sistem pemerintahan. Said menilai Indonesia menganut demokrasi presidensial di mana presiden punya posisi kuat karena dipilih langsung. Nah, untuk mengimbangi itu, dibutuhkan parlemen yang juga kuat. Parlemen yang kuat, dalam pandangannya, bisa lahir jika semua suara punya wakil, tanpa terhalang batas minimal.
Lalu, yang ketiga, dia mengangkat data pemilu 2024. Angkanya cukup mencengangkan.
"Berdasarkan data yang dimiliki oleh Partai Buruh dengan mengolah data hasil pemilu 2024, ada 50 juta hingga 60 juta suara rakyat yang terbuang sia-sia akibat Parliamentary Threshold 4%," tegas Said.
Itu artinya, hampir 30-40% suara pemilih hilang begitu saja. "Oleh karena itu, parliamentary threshold harus ditiadakan atau dengan kata lain, parliamentary threshold 0% untuk menghindari terbuangnya data yang sia-sia," pungkasnya.
Di Sisi Lain, NasDem Bersikukuh di Angka 7%
Pandangan Partai Buruh ini jelas bertolak belakang dengan posisi NasDem. Sebelumnya, Ketua Umum NasDem Surya Paloh sudah menyatakan partainya akan konsisten mendorong ambang batas parlemen naik ke level 7 persen.
Di NasDem Tower, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (21/2), Paloh menyampaikan argumennya. Baginya, angka 7% jauh lebih efektif.
"Saya pikir biasanya NasDem itu harusnya tetap konsisten saja di situ. Kecuali ada perubahan-perubahan yang berarti sekali ya," ujar Paloh.
Dia lalu merenungkan soal banyaknya partai politik yang ada sekarang. "Kita terlalu gembira dengan banyaknya seluruh partai-partai politik untuk dan atas nama kepentingan demokrasi itu sendiri," katanya.
Namun begitu, Paloh mempertanyakan esensi demokrasi itu sendiri. "Tapi di sisi lain, untuk apa demokrasi kalau tidak membawa azas manfaat dan konsistensi kita menuju arah cita-cita kemerdekaan yang kita miliki."
Menurutnya, efektivitas dan stabilitas pemerintahan perlu jadi pertimbangan utama. Perubahan ke arah sistem yang lebih "selektif" dalam jumlah partai, dalam pandangannya, akan lebih menguntungkan bagi masa depan bangsa.
Artikel Terkait
Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selama Cuti Bersama Idul Adha 1447 H
Wamendesa: Kritik pada Program Pemerintah Bagian dari Demokrasi, Semua Pihak Diajak Bangun Desa
China Serukan Gencatan Senjata Komprehensif di Kawasan Teluk dalam Pertemuan PBB
Polisi Tanggamus Tangkap Lima Pemburu Rusa Sambar di Kawasan Hutan Konservasi