Jadi pejabat di negeri ini memang ujian berat. Godaan korupsi, harta, dan segala macam kemewahan lainnya bertebaran. Banyak yang jatuh karena tak kuasa menahan diri. Lalu, apa bentengnya? Hanya keimanan. Iman kepada Allah dan hari akhir yang akan mengingatkan kita untuk takut berbuat zalim. Saat tangan ingin mengambil yang bukan haknya, rasa takut itulah yang menghentikan. Takut dihisab nanti. Harta haram yang menumpuk, dari mana asalnya? Pertanyaan itu yang harus selalu menggema.
Hidup ini cuma sementara, Gus. Dulu, orang tua dan guru-guru kita mengajarkan bahwa Islam adalah agama wahyu satu-satunya yang benar. Agama lain adalah produk budaya. Itu keyakinan kita.
Pegang teguh keyakinan itu, tapi ingat, kita juga diharamkan menzalimi pemeluk agama lain. Toleransi itu wajib. Tapi dalam hati, kita harus berusaha minimal berdoa agar mereka suatu saat mendapat hidayah. Seperti firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 85, “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
Dengan berpegang pada Al-Qur’an, insya Allah kita selamat. Kita jadi takut melanggar larangan-Nya, terutama dosa-dosa besar: mencuri, korupsi, berzina, membunuh, menyekutukan Allah. Tanpa pegangan itu, kita akan terjebak dalam relativisme. Menganggap semua agama sama, semua nilai benar. Akhirnya, kita kehilangan pijakan. Dunia dilihat sebagai arena pemuas nafsu belaka. Menumpuk harta, lalu terjerumus ke dalam lubang yang lebih dalam.
Maka, sekaranglah waktunya, Gus Yaqut, untuk kembali memegang teguh Islam. Bangga jadi pembelanya. Bangga jadi da’inya. Bangga jadi pejuangnya.
Kalau memang ada salah, segeralah bertobat. Perbanyak istighfar, perbaiki diri. Allah Maha Pengampun. Dia pasti mengampuni hamba-Nya yang sungguh-sungguh kembali.
Surat singkat ini, semoga sampai ke tangan Gus Yaqut atau para pendukungnya. Semoga kita semua dikumpulkan Allah dalam barisan pembela Islam, dan dipertemukan di surga-Nya bersama Nabi Muhammad. Amiin.
Depok, 9 Januari 2026
Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP